GazanaPublika.com, Ramat Gan — Ketegangan di Timur Tengah memuncak setelah serangkaian serangan rudal balistik yang diluncurkan Iran menghantam sejumlah wilayah padat penduduk di Israel, termasuk Ramat Gan dan kota Beersheba, Kamis pagi (19/6/2025). Serangan ini disebut sebagai balasan atas serangan udara Israel ke fasilitas nuklir Iran pada awal pekan, dan kini berpotensi memicu konflik regional berskala luas.
Salah satu rudal dengan hulu ledak klaster (sub-munisi) menghantam blok apartemen bertingkat di Ramat Gan, wilayah metropolitan Tel Aviv. Ledakan tersebut mengakibatkan kerusakan struktur besar-besaran, dan menyebabkan sedikitnya 2 orang luka serius serta lebih dari 20 lainnya mengalami luka ringan. Tim penyelamat bekerja tanpa henti selama lebih dari satu jam untuk mengevakuasi warga—termasuk anak-anak kecil—menggunakan tangga darurat karena sistem lift lumpuh total.
Sementara itu, Soroka Medical Center di Beersheba juga terkena imbas gelombang ledakan. Sekitar 70 orang terluka di Beersheba, dan total 129 korban luka tercatat di berbagai wilayah di sekitar Tel Aviv.
“Ini bukan hanya insiden militer, ini teror terhadap warga sipil,” kata seorang petugas medis di Ramat Gan seperti dikutip dari The Times of Israel.
Sistem Pertahanan Ditembus, Evakuasi Massal Dilakukan
Meski sistem pertahanan udara Iron Dome Israel berhasil mencegat puluhan rudal, sejumlah proyektil berhasil lolos dan menghantam sasaran strategis maupun sipil. Soroka Medical Center melaporkan kerusakan besar, tetapi evakuasi dini berhasil mencegah jatuhnya korban jiwa di ruang-ruang perawatan kritis.
“Kami bersyukur sebagian besar bangsal telah dikosongkan beberapa jam sebelumnya karena peringatan dini,” ujar juru bicara rumah sakit seperti dilansir Times of Israel.
Total sekitar 911 warga Israel dilaporkan luka-luka, mulai dari luka ringan hingga sedang, tersebar di Ramat Gan, Holon, Beersheba, dan wilayah sekitarnya.
Respons Keras Israel: Serang Balik Fasilitas Nuklir Iran
Pemerintah Israel bereaksi cepat. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengecam serangan Iran sebagai aksi teror negara dan memperingatkan bahwa “Iran akan membayar mahal.” Menteri Pertahanan Israel Katz menyebut Ayatollah Khamenei sebagai “Hitler modern”, dan berjanji membalas dengan operasi strategis lanjutan terhadap pusat-pusat kekuatan militer dan nuklir Iran.
Tak lama setelah serangan rudal Iran, jet-jet tempur Israel dilaporkan melancarkan serangan udara ke fasilitas nuklir Arak (Khondab) dan kompleks pengayaan uranium di Natanz. Beberapa laporan menyebutkan bahwa serangan itu mengakibatkan penghancuran segel inti reaktor dan gangguan besar pada infrastruktur nuklir Iran.
Dunia Internasional Waswas: 600 Tewas di Iran, Ratusan Luka di Israel
Konflik mematikan ini telah menewaskan lebih dari 600 orang di Iran, termasuk warga sipil dan personel militer, sebagai dampak dari serangan Israel. Sementara di pihak Israel, tercatat antara 240 hingga 271 orang luka-luka akibat rentetan rudal Iran.
Reaksi global tak menunggu lama. Amerika Serikat menyerukan penahanan diri, namun kabarnya Washington sedang mempertimbangkan intervensi militer terbatas. Rusia, Tiongkok, Inggris, dan Uni Eropa turut menyuarakan keprihatinan dan menyerukan penghentian serangan balasan, terutama terhadap fasilitas nuklir.
Risiko Perang Terbuka Membayangi
Penggunaan rudal berpeluru klaster dan serangan terhadap fasilitas nuklir meningkatkan kekhawatiran akan pecahnya perang terbuka di Timur Tengah. Para analis memperingatkan bahwa jika tidak dikendalikan melalui diplomasi, konflik ini dapat menyeret kekuatan regional lain seperti Hizbullah di Lebanon dan kelompok proksi Iran di Suriah, Irak, dan Yaman.
Kesimpulan: Serangan rudal Iran ke Ramat Gan dan wilayah lain menandai babak baru dalam konflik Iran-Israel yang berpotensi mengguncang stabilitas kawasan. Israel telah membalas dengan kekuatan penuh, sementara dunia menahan napas menanti apakah diplomasi masih mungkin membendung laju eskalasi. Di lapangan, korban terus bertambah, dan warga sipil menjadi pihak yang paling menderita.

