GazanaPublika.com, London – Pasar minyak global diperkirakan menghadapi surplus pasokan terbesar dalam satu dekade pada tahun 2026. Laporan terbaru International Energy Agency (IEA) menyebutkan, kelebihan pasokan bisa mencapai 4,09 juta barel per hari (bph), didorong oleh meningkatnya produksi dari negara-negara anggota OPEC+ dan melambatnya pertumbuhan permintaan energi global, dikutip dari Reuters (13/11/2025).

Menurut IEA, produksi minyak dunia pada 2025 sudah akan naik sekitar 3,1 juta bph, dan tren tersebut diperkirakan berlanjut hingga 2026. Pertumbuhan pasokan terutama datang dari Amerika Serikat, Brasil, dan Guyana, serta beberapa negara di Timur Tengah yang berupaya memperkuat pendapatan dari sektor energi sebelum transisi energi hijau global semakin masif.

“Produksi yang terus meningkat sementara permintaan melambat berpotensi menekan harga minyak secara signifikan,” tulis laporan IEA.

Kelebihan pasokan ini juga berpotensi menimbulkan tekanan pada negara-negara produsen besar seperti Arab Saudi dan Rusia yang sangat bergantung pada ekspor minyak untuk menopang anggaran negara.

Meski demikian, bagi negara-negara konsumen seperti India, China, dan Indonesia, potensi surplus minyak bisa membawa dampak positif berupa penurunan harga bahan bakar, yang berpotensi menekan inflasi dan beban subsidi energi. Namun, IEA memperingatkan bahwa harga terlalu rendah juga bisa menimbulkan risiko investasi jangka panjang di sektor hulu energi, termasuk eksplorasi dan pengembangan cadangan baru.

Pengamat energi global menilai situasi ini menjadi titik kritis bagi kebijakan energi dunia: antara menjaga kestabilan pasar atau mempercepat transisi ke energi terbarukan.

“Surplus pasokan adalah cermin ketidakseimbangan struktural antara ambisi dekarbonisasi dan realitas konsumsi global,” ujar analis energi dari Wood Mackenzie, dikutip Reuters.

Redaksi

Exit mobile version