Advertisement
GazanaPublika.com, Jakarta — Ketegangan geopolitik yang kembali membara di kawasan Timur Tengah melemparkan guncangan baru bagi pasar energi global. Harga minyak mentah dunia melampaui ambang batas psikologis seratus dolar AS per barel pada perdagangan Kamis, menandai level tertinggi sejak Mei lalu. Lonjakan tajam ini terpicu oleh klaim kelompok militan Houthi di Yaman yang melancarkan serangan terhadap dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi di Laut Merah, bertepatan dengan kian sengitnya kontak senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Kondisi tersebut memperparah guncangan pasokan minyak mentah global yang kini dikategorikan sebagai salah satu krisis energi terbesar dalam sejarah. Di pasar komoditas, harga minyak mentah berjangka jenis Brent sempat menembus angka seratus dolar AS per barel pada Kamis pagi sebelum bergerak melandai tipis di kisaran 99,70 dolar AS. Lonjakan ini mencatatkan kenaikan sekitar 28 persen hanya dalam tempo satu bulan terakhir, membalikkan tren penurunan harga yang sempat terjadi saat rumor kesepakatan damai berembus beberapa waktu lalu.
Dampak dari melambungnya biaya energi ini langsung menjalar ke pasar keuangan global. Indeks saham utama di Bursa Efek New York melesat turun secara signifikan. Indeks Dow Jones Industrial Average merosot hingga 375 poin atau sekitar 0,7 persen, sementara indeks S&P 500 juga terkoreksi dengan persentase yang sama. Tekanan paling berat dialami indeks Nasdaq yang didominasi saham-saham teknologi, yang ditutup melemah hingga 1,4 persen.
Di tingkat konsumen, merangkaknya harga minyak mentah mulai membebani masyarakat secara langsung, terutama pada sektor transportasi. Menurut data AAA, harga rata-rata bahan bakar bensin di Amerika Serikat kini telah menyentuh angka 4,09 dolar AS per galon. Kenaikan biaya bahan bakar ini terjadi secara cepat setelah sebelumnya sempat berada di level yang relatif lebih rendah ketika wacana gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran mengemuka.
Namun, harapan akan pulihnya stabilitas pasokan mendadak sirna setelah pertempuran skala besar kembali pecah. Aktivitas pelayaran maritim di Selat Hormuz, jalur vital yang memfasilitasi sekitar seperlima dari total pasokan minyak dunia, mengalami penurunan drastis. Pemerintah Amerika Serikat memutuskan untuk melanjutkan blokade angkatan laut di selat tersebut sebagai balasan atas aksi penembakan terhadap kapal-kapal tanker oleh pihak Iran.
Upaya diversifikasi rute pengiriman yang dilakukan oleh Arab Saudi pun kini berada dalam ancaman besar. Selama ini, Kerajaan Arab Saudi mengandalkan jaringan pipa darat yang membentang menuju pesisir Laut Merah untuk memuat minyak ke kapal tanker tanpa harus melewati Selat Hormuz. Aksi serangan terbaru oleh kelompok Houthi di wilayah perairan Laut Merah tersebut kini menebar ancaman baru yang berpotensi melumpuhkan rute alternatif terakhir bagi kelancaran pasokan minyak mentah dunia.
Advertisement
