GazanaPublika.com,   Washington — Pemerintah Amerika Serikat melalui Pentagon resmi mencopot John Phelan dari jabatannya di tengah situasi perang melawan Iran yang masih berlangsung sejak akhir Februari lalu.

Dalam pernyataan resminya, Pentagon hanya menyebut bahwa Phelan “meninggalkan pemerintahan, berlaku segera”, tanpa merinci alasan di balik keputusan tersebut. Juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell, menyampaikan apresiasi atas pengabdian Phelan.

“Atas nama Menteri Perang dan Wakil Menteri Perang, kami berterima kasih kepada Menteri Phelan atas pengabdiannya kepada Kementerian dan Angkatan Laut Amerika Serikat,” ujarnya.

Sebagai pengganti sementara, posisi tersebut akan diisi oleh Wakil Menteri Angkatan Laut, Hung Cao.

Gelombang Perombakan di Tubuh Militer AS

Pemecatan ini menjadi bagian dari rangkaian perombakan di tubuh militer Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir. Sebelumnya, Pete Hegseth juga mencopot pejabat tinggi militer, termasuk Kepala Staf Angkatan Darat AS, Randy George.

Sejumlah sumber menyebutkan langkah tersebut berkaitan dengan dinamika internal dan ketegangan di level pimpinan militer, termasuk relasi dengan Daniel Driscoll.

Rangkaian pergantian ini memperpanjang daftar gejolak di Pentagon, menyusul pencopotan sejumlah pejabat tinggi sebelumnya, termasuk mantan Ketua Kepala Staf Gabungan, C.Q. Brown.

Bayang-bayang Konflik dan Gencatan Senjata Rapuh

Langkah ini terjadi di tengah situasi gencatan senjata yang rapuh antara Amerika Serikat dan Iran. Washington diketahui terus memperkuat kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah, terutama melalui pengerahan armada laut untuk menjaga tekanan strategis terhadap Teheran.

Presiden Donald Trump sebelumnya mengandalkan kekuatan angkatan laut untuk menjalankan blokade, khususnya di wilayah strategis seperti Selat Hormuz, guna menekan Iran agar kembali ke meja perundingan.

Namun, proses diplomasi belum menunjukkan kemajuan signifikan. Iran dilaporkan belum bersedia menghadiri putaran lanjutan negosiasi damai yang direncanakan berlangsung di Islamabad, Pakistan.

Di tengah kebuntuan tersebut, Trump bahkan memutuskan memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu yang jelas, meski sebelumnya sempat melontarkan ultimatum keras terhadap Iran.

Tekanan Politik dan Strategi yang Dipertanyakan

Pengamat kebijakan luar negeri AS, Barbara Slavin, menilai langkah memperpanjang gencatan senjata lebih sebagai upaya meredam tekanan politik.

Menurutnya, situasi ini menunjukkan posisi Washington yang tidak sepenuhnya menguntungkan dalam konflik tersebut.

“Perang ini tidak berjalan seperti yang ia harapkan sejak awal, dan Iran telah menemukan daya tawar baru melalui kendalinya atas Selat Hormuz,” ujar Slavin.

Ia menambahkan, Amerika Serikat seharusnya mulai melonggarkan tuntutan dan menunjukkan keseriusan dalam mencari solusi damai.

Di tengah ketidakpastian arah konflik, pergantian pejabat tinggi di Pentagon dinilai menjadi sinyal bahwa strategi militer dan politik Amerika Serikat sedang mengalami penyesuaian besar.

Redaksi

Exit mobile version