GazanaPublika.com, Jakarta — Negosiasi teknis tingkat tinggi antara Iran dan Amerika Serikat yang digelar di resor mewah Bürgenstock, Swiss, resmi berakhir dengan sejumlah kesepakatan penting. Hasil pertemuan ini menandai babak baru dalam upaya meredakan ketegangan di Timur Tengah, khususnya terkait isu nuklir, sanksi ekonomi, hingga stabilitas jalur maritim strategis.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengungkapkan bahwa kedua belah pihak sepakat untuk membentuk empat kelompok kerja khusus guna menindaklanjuti poin-poin krusial. Kelompok kerja tersebut meliputi Penghentian Sanksi, Urusan Nuklir, Rekonstruksi dan Pembangunan Ekonomi, serta Pemantauan dan Implementasi. Langkah ini diambil demi memastikan setiap kesepakatan teknis dapat dieksekusi dengan matang oleh kedua negara.
Pengelolaan Selat Hormuz dan Gencatan Senjata
Selain pembentukan kelompok kerja, putaran pertama pembicaraan yang berlangsung sejak Senin (22/6) ini berhasil menyepakati pembangunan jalur komunikasi khusus. Jalur ini berfungsi untuk memastikan Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional sekaligus mengakhiri pertempuran yang berkecamuk di Lebanon.
Kepala negosiator sekaligus Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa Selat Hormuz ke depan tidak akan pernah kembali ke kondisi sebelum perang. Jalur perairan paling strategis di dunia tersebut nantinya akan sepenuhnya dikelola oleh Republik Islam Iran dengan tetap menghormati dan mematuhi hukum internasional yang berlaku.
Ghalibaf menilai perjalanan diplomatik ke Swiss ini membawa pencapaian yang sangat baik bagi Teheran. Menurutnya, selain isu Selat Hormuz dan situasi di Lebanon, pertemuan tersebut juga membuahkan hasil positif terkait diskusi pengecualian sanksi minyak serta pencairan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan oleh sepihak. Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa kesepakatan ini barulah langkah awal dan kedua negara masih memiliki pekerjaan panjang yang harus dilanjutkan.
Penangguhan Sanksi dan Status Program Nuklir
Sebagai bagian dari timbal balik kesepakatan ini, Amerika Serikat berkomitmen untuk memberikan keringanan sanksi dan mencairkan sejumlah aset Iran. Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, menyatakan bahwa Washington bersedia menangguhkan sanksi terhadap minyak Iran untuk sementara waktu. Keputusan ini diambil setelah Teheran memberikan lampu hijau bagi para inspektur nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk kembali masuk dan melakukan pengawasan di negara tersebut.
Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, memberikan penegasan bahwa Teheran sama sekali tidak menegosiasikan ulang program nuklirnya dalam forum tersebut. Iran juga menegaskan tidak menerima komitmen baru apa pun yang di luar kesepakatan awal dengan Amerika Serikat.
Baghaei memastikan bahwa interaksi serta kerja sama antara Iran dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) akan tetap berjalan normal sesuai dengan prosedur yang ada. Seluruh proses pengawasan ke depan dipastikan tetap berada di bawah persetujuan resmi dari Parlemen Iran serta keputusan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.
