Advertisement
GazanaPublika.com, Tel Aviv — Jalur Gaza hingga kini masih berada di bawah kendali penuh atas seluruh akses masuknya oleh pihak Tel Aviv sejak 2007. Di tengah situasi perang yang berkecamuk sejak Oktober 2023—yang memicu kelangkaan pangan dan obat-obatan akibat pasokan yang kerap dihentikan sepenuhnya—sebuah ketegangan baru pecah di wilayah laut internasional dekat Siprus.
Sebuah misi kemanusiaan terbaru bernama ‘Global Sumud Flotilla’ meluncurkan konvoi lebih dari 50 kapal sejak Kamis (14/5) pekan lalu dari distrik Marmaris, Turki. Misinya adalah menembus blokade laut demi menyalurkan bantuan darurat serta susu formula bayi ke Gaza. Namun, pelayaran tersebut berujung pada aksi intersepsi oleh militer Tel Aviv.
Advertisement
Berdasarkan laporan siaran langsung, pasukan Angkatan Laut Israel menyerang dan menaiki armada sipil tersebut satu per satu. Manajemen krisis misi melaporkan puluhan kapal mereka diserang dan kontak terhadap 23 kapal di antaranya terputus. Mengutip laporan media lokal Walla, sekitar 100 aktivis kemanusiaan kini telah ditahan, termasuk lima warga negara Indonesia (WNI) yang keberadaannya dikonfirmasi oleh Global Peace Convoy Indonesia (GPCI).
Apresiasi Netanyahu kepada Pasukan Militer
Merespons operasi pembersihan di laut tersebut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka melayangkan pujian tinggi bagi komandan beserta pasukan Angkatan Lautnya. Melalui rekaman video resmi yang dirilis oleh kantornya, Netanyahu menyatakan keberhasilan operasi tersebut dalam mempertahankan status blokade wilayah.
“Saya meyakini Anda melakukan pekerjaan yang luar biasa… dan pada intinya telah menggagalkan rencana jahat yang dirancang untuk melanggar blokade yang telah kita terapkan terhadap teroris Hamas di Gaza,” kata Netanyahu kepada komandan militer yang memimpin pencegatan kapal-kapal Global Sumud Flotilla.
Ia juga menambahkan rasa puasnya atas minimnya gejolak yang timbul dari operasi rahasia itu di lapangan.
“Anda melaksanakannya dengan sangat sukses… dan tentu saja dengan jauh sedikit gembar-gembor daripada yang diantisipasi musuh-musuh kita… Lanjutkan hingga akhir,” ucap PM Israel itu.
Penjara Terapung dan Saling Batas Klaim Pasokan
Informasi yang dihimpun dari harian lokal Israel Yedioth Ahronoth menyebutkan bahwa para aktivis kemanusiaan yang tertangkap dikumpulkan ke dalam sebuah kapal militer yang difungsikan layaknya ‘penjara terapung’. Mereka kemudian diangkut menuju pelabuhan Ashdod yang terletak di bagian selatan Israel. Pihak Tel Aviv juga sempat menyebarkan rekaman video yang memperlihatkan momen ketika para aktivis saling berpelukan setelah dievakuasi dari kapal asal mereka.
Kendati pihak panitia konvoi menegaskan muatan kapal murni pasokan kemanusiaan, klaim tersebut langsung dibantah keras oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Oren Marmostein. Lewat pesan teks kepada jurnalis, ia menyanggah isi muatan logistik tersebut.
“Sejauh ini, belum ditemukan bantuan kemanusiaan di kapal-kapal mereka,” tegas Marmorstein dalam pesan teks kepada wartawan.
Lebih lanjut, Kementerian Luar Negeri Israel secara terpisah menilai konvoi laut tersebut tidak lebih dari bentuk memicu konfrontasi. Mereka juga menolak narasi bahwa masyarakat Gaza mengalami krisis kelaparan atau kekurangan logistik.
“Jalur Gaza dibanjiri bantuan. Sejak Oktober saja, lebih dari 1,58 juta ton bantuan kemanusiaan dan ribuan ton pasokan medis telah masuk ke Gaza,” sebutnya dalam rilis resmi, sembari menegaskan komitmen penuh Tel Aviv untuk menyapu bersih setiap kapal yang mencoba merapat ke Gaza tanpa izin.
Advertisement
