GazanaPublika.com, Tyre – Ketegangan di wilayah Lebanon selatan dan timur semakin meruncing setelah militer Israel mengintensifkan operasi tempurnya. Langkah ini ditandai dengan dikeluarkannya perintah pengosongan paksa terhadap kota Tyre—salah satu kota terbesar di Lebanon selatan—serta desa-desa di sekitarnya. Pihak militer Israel melampirkan peta wilayah yang harus ditinggalkan oleh penduduk setempat, mencakup sebagian besar wilayah Kota Tyre. Kantor Berita Nasional Lebanon juga turut mengonfirmasi adanya instruksi evakuasi massal tersebut.
Dikutip dari Al Jazeera, eskalasi militer ini berlangsung di tengah momen jutaan umat Islam yang sedang merayakan hari raya Iduladha. Di wilayah darat, kelompok Hizbullah melaporkan bahwa para anggotanya terlibat pertempuran sengit dengan pasukan Israel di luar ‘Yellow Line’. Istilah ‘Yellow Line’ merujuk pada garis batas bentukan Israel yang menandai dimulainya zona militer di Lebanon bagian selatan dan timur. Salah satu titik pertempuran jarak dekat dilaporkan terjadi di kota Zawtar al-Sharqiyah, sebuah wilayah yang berjarak sekitar 10 kilometer (6 mil) di sebelah utara perbatasan Lebanon-Israel. Sementara itu, dari pihak militer Israel menyatakan bahwa mereka mendeteksi adanya dampak jatuhnya beberapa drone peledak di wilayah bagian utara negaranya.
Serangan udara Israel pada (27/5/2026) dilaporkan telah merenggut korban jiwa, termasuk salah seorang prajurit militer Lebanon. Angkatan darat Lebanon mengonfirmasi bahwa seorang tentaranya gugur di dekat pos penjagaannya di Bekaa, Lebanon timur, dan jenazahnya telah berhasil dievakuasi. Media lokal Lebanon juga mengabarkan jatuhnya dua korban jiwa tambahan di kota Deir Amas yang berada di distrik Tyre. Kantor Berita Nasional setempat menambahkan bahwa serangkaian serangan udara lain di kota Braiqaa turut menghancurkan dua unit rumah warga, di samping serangan udara yang menyasar kota Deir Qanoun en-Nahr, Srifa, dan Toura.
Terkait dengan instruksi evakuasi yang dikeluarkan pada hari Rabu tersebut, juru bicara militer Israel yang menggunakan bahasa Arab, Avichay Adraee, mengeluarkan pernyataan tegas:
“Segera evakuasi rumah Anda dan lanjutkan ke utara melintasi Sungai Zahrani,”
“Peringatan – pergerakan apa pun ke selatan Sungai Zahrani dapat membahayakan nyawa Anda.”
Rangkaian kekerasan bersenjata ini terjadi hanya berselang satu hari setelah serangan hebat Israel di Lebanon selatan dan timur menewaskan sedikitnya 31 orang dan melukai 40 lainnya pada (26/5/2026), mengacu pada data Kementerian Kesehatan Publik Lebanon. Sepanjang jendela waktu sekitar 10 jam di hari Selasa tersebut, militer Israel juga secara beruntun menerbitkan perintah perpindahan paksa bagi puluhan kota, desa, serta keseluruhan wilayah Kota Nabatieh. Warga diinstruksikan untuk mengungsi ke wilayah utara menjauhi Sungai Zahrani, yang membentang sekitar 40 kilometer (25 mil) dari garis perbatasan Lebanon dengan Israel.
Wartawan Al Jazeera, Obaida Hitto, yang melaporkan langsung dari Tyre memberikan gambaran situasi mengenai serangan yang terjadi pada hari Selasa di wilayah timur tersebut:
“Serangan besar Israel menghantam Lebanon timur, mengenai Machgharah di Bekaa barat, dan serangan lain yang lebih jauh ke utara menargetkan Bendungan Qaraoun yang strategis,”
“Lebih banyak serangan mematikan menyusul perintah evakuasi yang mencakup kota Nabatieh.”
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Selasa malam menyatakan bahwa pasukan darat Israel dalam skala besar tengah merangsek jauh ke dalam wilayah Lebanon selatan demi menguasai kawasan dan memperkuat apa yang disebutnya sebagai ‘security zone’ di negara tetangga tersebut.
Sebagai bentuk perlawanan, Hizbullah mengeklaim bertanggung jawab atas 32 operasi militer pada hari Selasa yang membidik tentara Israel di Lebanon selatan. Kelompok tersebut menyatakan bahwa para pejuangnya terlibat dalam bentrokan langsung serta meluncurkan roket, artileri, dan drone guna membendung laju penetrasi militer Israel, terutama di kawasan Zawtar al-Sharqiya. Serangan tersebut diklaim menyasar beberapa tank Merkava, kendaraan lapis baja, sistem komunikasi, landasan ‘Iron Dome’, serta menjatuhkan dua unit ‘quadcopter’ milik Israel.
Kementerian Kesehatan Lebanon merilis akumulasi data korban pada hari Selasa yang menunjukkan bahwa sedikitnya 3.213 orang telah tewas dan 9.737 lainnya luka-luka akibat rangkaian serangan Israel sejak eskalasi pertempuran memuncak pada (2/3/2026). Konflik di Lebanon terseret ke dalam pusaran perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran sejak hari itu, setelah Hizbullah yang bersekutu dengan Teheran meluncurkan serangan ke Israel.
Pihak Hizbullah berdalih serangan tersebut merupakan aksi balasan atas tewasnya Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei pada hari pertama perang, yakni (28/2/2026), serta respons atas dugaan pelanggaran harian oleh Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sempat disetujui di Lebanon pada (11/2024). Kendati gencatan senjata berikutnya sempat disepakati kembali pada (4/2026), namun rangkaian serangan dari militer Israel masih terus berlanjut hingga saat ini.

