GazanaPublika.com, Jakarta — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeklaim negaranya memegang kendali penuh atas Selat Hormuz. “Amerika Serikat memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz. Saya pikir kita akan tetap mempertahankannya! Dan tidak ada yang bisa dilakukan Iran untuk mencegahnya,” tulis Trump di media sosial Truth Social.

Namun data pelacakan maritim menunjukkan realitas yang berbanding terbalik. Dari rata-rata lebih dari 130 kapal per hari sebelum konflik, jumlah kapal yang melintas kini anjlok drastis menjadi hanya sekitar 13–14 kapal per hari, bahkan sempat turun hingga hanya 1 kapal pada 12 Agustus 2026.

Lebih mencoloknya, hampir seluruh kapal yang masih berani melintas justru memilih jalur perairan utara yang berdekatan dengan pantai Iran, bukan jalur selatan di bawah perlindungan armada AS. Pada periode pertengahan hingga akhir Juli 2026, sekitar 90% kapal memilih jalur Iran, dan pada hari terakhir pemantauan, seluruh kapal yang melintas menggunakan jalur tersebut.

Penyebab utamanya adalah biaya asuransi perang yang melonjak luar biasa. Premi asuransi risiko perang yang sebelumnya hanya sekitar 0,25% dari nilai kapal per lintasan, kini melonjak mencapai 7,5% hingga 10% dari nilai kapal. Untuk sebuah kapal tanker besar senilai 1 miliar dolar AS, biaya asuransi sekali lintasan saja dapat mencapai 75 hingga 100 juta dolar AS.

Keputusan para pemilik kapal memilih jalur Iran didasari perhitungan risiko: jalur selatan yang diklaim dikuasai AS justru lebih sering menjadi sasaran tembakan dan serangan, sehingga perusahaan asuransi menolak memberikan perlindungan atau menetapkan premi yang tidak terjangkau. Sementara jalur utara yang berada di bawah pengawasan Iran dinilai lebih aman selama kapal memperoleh izin dari pihak berwenang Iran.

Pihak berwenang Iran menegaskan kembali bahwa Selat Hormuz tetap tertutup hingga Washington memenuhi tuntutan Teheran. “Klaim berulang pejabat AS bahwa Selat Hormuz tidak lagi diblokir tidak mengubah kenyataan. Selat Hormuz tetap tertutup dan tidak akan dibuka kembali sampai syarat-syarat Iran diterima,” tulis Otoritas Selat Teluk Persia Iran di akun platform X resminya.

Peneliti keamanan maritim menilai Iran tidak perlu mengalahkan angkatan laut AS secara langsung. Cukup dengan menciptakan persepsi risiko yang tinggi melalui serangan rudal dan drone secara berkala, Iran telah berhasil membuat jalur pelayaran yang diklaim dikuasai AS menjadi sepi sepenuhnya.

Sumber: Kompas.com, The Wall Street Journal, Kpler, Marsh, IEA — 13 Agustus 2026

Redaksi

Exit mobile version