Gaza, GazanaPublika.com – Israel dituduh oleh pemerintah Afrika Selatan melakukan tindakan genosida terhadap warga Palestina di wilayah Gaza.

Pada tanggal 11 dan 12 Januari 2024, Mahkamah Internasional dijadwalkan akan mendengarkan argumen terkait tuduhan tersebut.

Francesca Albanese, Pelapor Khusus PBB untuk Wilayah Pendudukan Palestina, menyatakan bahwa situasi kelaparan parah telah terjadi di Gaza. Menurutnya, kondisi kelaparan tersebut menjadi bukti yang mendukung klaim yang diajukan oleh pemerintah Afrika Selatan.

“Genosida yang dituduhkan terhadap Israel semakin memburuk dengan parahnya kelaparan di Gaza,” kata sumber pada Rabu (10/1/2024), sebagaimana dilaporkan oleh Al Jazeera.

Saat ini, Gaza menghadapi krisis kelaparan terparah di seluruh dunia.

Kondisi ini disebabkan oleh serangan dan pengepungan Israel terhadap wilayah tersebut, yang mengakibatkan kelaparan di kalangan warga sipil.

Orang tua di Gaza tidak mampu memberikan makanan kepada anak-anak mereka sehingga terpaksa melihat mereka kelaparan.

Risiko kekurangan gizi paling tinggi dialami oleh anak-anak kecil, wanita hamil, dan ibu menyusui.

Namun, saat ini hampir seluruh penduduk di Gaza mengalami kelaparan dan menghadapi krisis pangan yang lebih parah.

Dengan menggunakan skala 5 fase yang diakui secara internasional untuk mengklasifikasikan krisis pangan, lebih dari setengah juta orang di Gaza, atau seperempat dari seluruh populasi, saat ini dianggap berada pada tingkat ‘bencana’ Fase 5 yang paling parah. Hal ini mencerminkan risiko tinggi terhadap kelaparan massal dan kematian.

Disadur dari Reliefweb lebih dari 80 persen individu yang saat ini digolongkan dalam Fase 5 di seluruh dunia berada di Gaza.

Kelaparan hampir tidak dapat dihindari kecuali terjadi gencatan senjata dan Israel memberikan izin untuk lebih banyak bantuan serta komoditas komersial yang masuk ke wilayah tersebut.

Meskipun telah diumumkan berulang kali, belum terlihat perbaikan signifikan dalam jumlah pasokan yang mencapai warga sipil.

Bantuan kemanusiaan saja tidak mencukupi untuk mengatasi krisis sebesar ini, namun Israel terus melarang sepenuhnya barang-barang komersial penting memasuki Gaza.

Pasokan komersial sebelumnya melibatkan lebih dari 90 persen truk yang melintasi penyeberangan Kerem Shalom.

Tanpa pasokan komersial, pasar-pasar di Gaza kini hampir sepi, dan harga makanan menjadi tidak terjangkau bagi sebagian besar penduduk.

Dalam beberapa hari terakhir, jumlah truk yang memasuki Gaza hanya mencapai lebih dari 100 truk per hari, hanya sekitar sepertiga dari jumlah harian sebelum 7 Oktober 2023.

Meskipun begitu, jumlah tersebut masih belum memadai.

Sebagian besar lahan pertanian subur di Gaza hancur, dan seluruh produksi pertanian, peternakan, dan perikanan hampir sepenuhnya terhenti akibat serangan tersebut.

Banyak toko roti juga menjadi korban bom, sementara yang tersisa hanya sedikit dan tidak mampu memproduksi roti karena kekurangan tepung dan bahan bakar.

Badan PBB untuk Pengungsi Palestina menyatakan bahwa gencatan senjata di Gaza dianggap sebagai isu hidup dan mati.

Sementara itu, Amerika Serikat (AS) kembali menegaskan penolakannya terhadap gencatan senjata.

Israel mengklaim telah berhasil menewaskan seorang komandan unit drone di wilayah selatan Hizbullah.

Hizbullah mengakui bahwa empat anggotanya tewas dalam serangan pada hari Selasa, namun membantah bahwa komandan mereka termasuk di antara para korban.

Serangan dari Israel melibatkan wilayah Gaza tengah dan selatan, dengan laporan kematian warga Palestina di al-Zuwayda, al-Maghazi, dan Deir el-Balah.

Minimal 15 warga sipil tewas dalam serangan udara Israel di sebuah apartemen di sebelah barat kota Rafah.

Militer Amerika Serikat menyatakan telah berhasil menembak jatuh drone dan rudal antikapal yang diluncurkan oleh kelompok Houthi Yaman di atas Laut Merah.

Israel telah mengirimkan sejumlah ahli hukum terkemuka, termasuk seorang penyintas Holocaust, untuk menghadiri sidang di Pengadilan Dunia dengan tujuan membantah tuduhan bahwa mereka melakukan genosida terhadap warga Palestina di Gaza.

Lebanon menyatakan kesiapannya untuk melakukan pembicaraan guna mencapai stabilitas jangka panjang di perbatasannya dengan Israel, sesuai dengan pernyataan Perdana Menteri sementara Najib Mikati.

Sejak tanggal 7 Oktober 2023, setidaknya 23.210 orang telah tewas dan lebih dari 59.100 orang mengalami luka-luka akibat serangan Israel di Gaza.

Jumlah korban tewas di Israel akibat serangan pada tanggal 7 Oktober telah direvisi menjadi 1.139 orang. (Sumber : Tribunnews.com)

Redaksi

Exit mobile version