GazanaPublika.com –  Kunjungan Paus Fransiskus ke Timor Leste pada 10 September 2024, menjadi sorotan tajam di kancah internasional setelah pemerintah Timor Leste mengalokasikan dana sebesar Rp185 miliar untuk persiapan acara tersebut. Langkah ini memicu kritik dari berbagai pihak yang menilai pengeluaran tersebut tidak proporsional dengan kondisi ekonomi negara yang masih menghadapi berbagai tantangan.

Timor Leste, negara yang merupakan salah satu negara termiskin di dunia dengan sekitar 42 persen penduduknya hidup dalam kemiskinan, menggelontorkan dana besar untuk menyambut pemimpin Gereja Katolik dunia ini. Peneliti dari Lao Hamutuk, Mariano Fereira, menilai alokasi dana ini sangat tidak sebanding dengan anggaran yang dialokasikan untuk sektor penting lainnya, seperti produksi pangan. “Anggaran tahunan untuk meningkatkan produksi pangan di Timor Leste hanya sekitar $4,7 juta (setara Rp72 miliar), jauh lebih kecil dibandingkan dana yang dialokasikan untuk kunjungan Paus,” ujar Fereira.

Dana sebesar Rp185 miliar tersebut digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk pembangunan altar khusus senilai $1 juta (sekitar Rp15 miliar) untuk Misa Suci yang akan dipimpin oleh Paus Fransiskus. Proyek pembangunan altar ini, menurut Rui Lourenco da Costa, Direktur Badan Pembangunan Nasional, dikerjakan oleh Perusahaan Carya Timor dan mencerminkan investasi dalam infrastruktur keagamaan yang penting.

Namun, Menteri Tata Usaha Negara Timor Leste, Tomas Cabral, membela keputusan tersebut dengan menyatakan bahwa alokasi dana ini tidak hanya untuk menyambut Paus tetapi juga untuk pengembangan jalan, renovasi gereja, dan fasilitas umum lainnya. “Jangan bandingkan negara kita dengan negara tetangga yang sudah memiliki infrastruktur memadai. Di sini, kita harus membangun semuanya dari awal,” kata Cabral.

Paus Fransiskus melaksanakan kunjungan ke Timor Leste sebagai bagian dari perjalanan apostoliknya di Asia-Pasifik, yang juga mencakup kunjungan ke Indonesia, Papua Nugini, dan akan berakhir di Singapura. Selama kunjungannya, Paus akan memimpin Misa Suci yang diharapkan dihadiri oleh lebih dari setengah populasi negara tersebut.

Meski demikian, keputusan pemerintah Timor Leste untuk mengalokasikan dana sebesar ini menimbulkan pertanyaan mengenai prioritas anggaran di negara dengan tingkat inflasi tinggi dan kerawanan pangan yang serius. Sekitar 364 ribu orang di Timor Leste mengalami kerawanan pangan akut dari Mei hingga September 2024 akibat perubahan cuaca yang berdampak pada produksi sereal.

Kritik terhadap pengeluaran besar ini mencerminkan ketegangan antara kebutuhan mendesak di bidang sosial dan prioritas diplomatik negara kecil ini dalam menyambut tamu internasional.

Redaksi

Exit mobile version