GazanaPublika.com, Jakarta — Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat kini merembet ke ranah digital. Dua pejabat tinggi dari kedua negara terlibat aksi saling sindir dan pamer kemampuan militer melalui platform media sosial, mencerminkan buntu dan panasnya hubungan diplomatik kedua belah pihak di dunia nyata.
Perang urat saraf ini melibatkan Kepala Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran, Ebrahim Azizi, dengan Wakil Kepala Staf Gedung Putih, Dan Scavino. Gesekan bermula saat Scavino mengunggah video yang menunjukkan kegagahan pesawat pengebom siluman jenis B-2 Spirit milik militer Amerika Serikat yang tengah mengudara.
Unggahan tersebut langsung memantik respons dari pihak Teheran. Azizi membalasnya dengan memamerkan rekaman video peluncuran rudal berpemandu Iran yang berhasil menghantam target secara presisi. Tidak tinggal diam, Scavino kemudian mengunggah gambar jam pasir, sebuah simbol yang mengisyaratkan bahwa waktu bagi Iran untuk menyepakati meja perundingan sudah semakin menipis.
Ketegangan di ruang siber ini kian memuncak saat Azizi kembali mengunggah video uji coba rudal balistik Kheibar Shekan miliknya dengan pesan bernada menantang. Namun, pihak Gedung Putih meragukan keaslian video tersebut dan menyebutnya sebagai rekayasa teknologi kecerdasan buatan atau AI, seraya menyindir keberadaan bunker bawah tanah milik Iran.
Sarkasme tersebut langsung dibalas menohok oleh Azizi. Ia mempertanyakan apakah insiden evakuasi massal terhadap hampir sembilan ribu warga Amerika serta kehancuran pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah beberapa waktu lalu juga merupakan hasil rekayasa teknologi AI.
Konfrontasi di media sosial ini terjadi di tengah mandeknya kesepakatan damai antara kedua negara, meskipun berbagai putaran pembicaraan telah diupayakan sejak kesepakatan gencatan senjata pada awal April lalu. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi bahwa negosiasi sejauh ini belum menunjukkan kemajuan yang nyata akibat militer Israel yang masih terus melancarkan agresi terhadap kelompok milisi Hizbullah di Lebanon, yang merupakan sekutu utama Teheran.
Walaupun Araghchi menyatakan jalur komunikasi dengan Washington masih tetap terbuka, ia memberikan peringatan keras bahwa setiap serangan yang menyasar kedaulatan Lebanon akan menjadi pemantik utama yang memicu kembalinya konflik bersenjata skala penuh antara Amerika Serikat dan Iran.
Situasi di lapangan sendiri semakin rumit setelah Hizbullah secara resmi menyatakan penolakannya untuk memperpanjang masa gencatan senjata karena menganggap perjanjian tersebut sama saja dengan menyerah kalah, menyusul insiden serangan udara Israel di Lebanon selatan yang sempat menewaskan seorang personel pasukan perdamaian PBB (UNIFIL).
