GazanaPublika.com – Serangan udara Israel memaksa penutupan jalur perbatasan utama antara Lebanon dan Suriah. Penutupan tersebut menyusul serangan di pinggiran selatan Beirut, yang dikenal sebagai benteng kelompok Hizbullah.
Menteri Transportasi Lebanon, Ali Hamieh, menjelaskan bahwa serangan ini menciptakan kawah selebar empat meter di dekat perbatasan, merusak wilayah sekitar dan menambah ketegangan di daerah tersebut. Sementara itu, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menuduh Hizbullah memanfaatkan jalur ini untuk menyelundupkan peralatan militer dari Suriah ke Lebanon, memicu aksi militer Israel.
Avichay Adraee, juru bicara IDF, menegaskan bahwa Israel akan terus mencegah pengiriman senjata ini dan tidak segan untuk bertindak jika situasi memaksa, sebagaimana dilakukan selama konflik yang sedang berlangsung.
Selama 10 hari terakhir, lebih dari 300.000 orang telah melintasi perbatasan Lebanon-Suriah untuk melarikan diri dari serangan Israel, menurut statistik resmi Lebanon. Sebagian besar dari mereka adalah warga Suriah yang melarikan diri dari wilayah Lebanon yang terkena dampak serangan.
Serangan di pinggiran selatan Dahiye yang merupakan markas besar Hizbullah kembali terjadi pada Kamis malam, dengan target utama adalah Hashem Safieddine, pejabat Hizbullah yang dikabarkan akan menggantikan Hassan Nasrallah. Meskipun nasib Safieddine belum jelas, baik Hizbullah maupun militer Israel menolak untuk berkomentar lebih lanjut.
Di tempat lain, ketakutan terus melanda warga Lebanon setelah ledakan besar mengguncang langit di sekitar Bandara Beirut. Lebih dari 1,2 juta warga Lebanon telah mengungsi akibat serangan Israel, dengan hampir 2.000 korban jiwa sejak serangan dimulai, menurut laporan pemerintah Lebanon.
Negara-negara di dunia pun bersiap mengevakuasi warganya dari Lebanon seiring meningkatnya konflik antara Israel dan Hizbullah, meskipun belum ada evakuasi militer skala besar yang dilaporkan.
Sumber: CNBCIndonesia.com

