GazanaPublika.com, New York – Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) melaporkan peningkatan jumlah kasus infeksi bakteri E. coli yang diduga berasal dari burger Quarter Pounder di jaringan restoran cepat saji McDonald’s. Kasus infeksi ini telah melonjak dari 49 menjadi 75 orang. Dari 61 pasien yang riwayat kesehatannya tercatat, sebanyak 22 orang dirawat di rumah sakit, dengan dua orang di antaranya mengalami sindrom hemolitik uremik—kondisi serius yang berpotensi menyebabkan gagal ginjal. Selain itu, satu orang dilaporkan meninggal dunia.
Bakteri yang bertanggung jawab atas wabah ini adalah E. coli strain O157:H7, yang diketahui menyebabkan infeksi serius, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan individu dengan sistem imun yang lemah. Menyusul temuan ini, McDonald’s menghentikan sementara penyajian Quarter Pounder di sekitar 2.800 dari total 14.000 restoran di AS yang terkena dampak.
Penyelidikan awal FDA bersama McDonald’s mengindikasikan bahwa sumber infeksi kemungkinan besar berasal dari bawang irisan tipis yang dipasok oleh Taylor Farms. McDonald’s pun segera menarik bawang tersebut secara sukarela dari restoran yang terdampak. Taylor Farms juga melakukan penarikan pada batch bawang tertentu dari fasilitas produksi di Colorado, yang diketahui telah didistribusikan ke sekitar 900 restoran di Colorado, Kansas, Wyoming, dan wilayah sekitarnya.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), wabah ini telah menjangkiti beberapa negara bagian, dengan Colorado menjadi yang paling terdampak dengan 26 kasus. Sementara bawang dari Taylor Farms merupakan tersangka utama, Departemen Pertanian AS turut menguji sampel daging sapi dalam burger untuk memastikan sumber penyebaran bakteri E. coli ini.
Meski McDonald’s dan Taylor Farms telah melakukan penarikan produk, CDC menyebutkan bahwa risiko infeksi bagi masyarakat umum tetap rendah. Tak hanya McDonald’s, beberapa jaringan restoran cepat saji lain seperti Taco Bell dan Burger King juga ikut menarik bawang segar dari menu mereka yang disuplai oleh Taylor Farms sebagai langkah pencegahan.
Kabar ini menimbulkan dampak langsung di pasar saham, dengan saham McDonald’s tercatat mengalami penurunan sekitar 3% pada penutupan perdagangan Jumat. Analis BTIG, Peter Saleh, menyatakan bahwa wabah ini dapat membawa dampak negatif jangka pendek bagi McDonald’s jika tidak segera tertangani.
Sumber: CNBCIndonesia.com

