GazanaPublika.com, Moskow – Viktor Litovkin, seorang purnawirawan kolonel Angkatan Darat Rusia sekaligus analis militer, menyatakan dalam wawancaranya dengan Sputnik bahwa Rudal Oreshnik dapat melaju dengan kecepatan Mach 10, yang setara dengan sekitar 3 km per detik.

Dia menjelaskan bahwa dengan kecepatan seperti itu, rudal ini tidak dapat dihentikan oleh sistem pertahanan udara yang ada saat ini.

Menurut Litovkin, keunggulan utama sistem rudal Oreshnik terletak pada dua faktor: pertama, rudal ini merupakan rudal jarak menengah yang mampu menjangkau jarak antara 1.000 km hingga 5.500 km; dan kedua, rudal ini adalah rudal hipersonik yang bergerak dengan kecepatan Mach 10.

Litovkin juga mengungkapkan bahwa Mach 10, yang setara dengan sepuluh kali kecepatan suara, dapat dihitung sebagai 3 km per detik.

“Tidak ada satupun sistem pertahanan udara atau rudal yang dapat menanggulangi rudal hipersonik ini,” tegasnya.

Menurutnya, “Negara Barat tidak memiliki rudal yang mampu terbang dengan kecepatan tersebut, bahkan mereka tidak memiliki rudal hipersonik sama sekali.”

Dia melanjutkan, “Meskipun Amerika Serikat sering mengklaim memiliki rudal serupa, mereka tidak pernah memperlihatkan peluncurannya. Mereka lebih sering menunjukkan rudal yang terbang dengan kecepatan supersonik, sekitar 5,5 kali kecepatan suara atau Mach 5,5. Namun, kecepatan hipersonik baru dimulai pada Mach 6-7.”

“Prinsip kerja rudal ini mirip dengan rudal hipersonik Kinzhal, yang diluncurkan dari pesawat supersonik MiG-31K, atau kendaraan luncur sistem hipersonik Avangard yang dipercepat oleh rudal balistik antarbenua UR-100N UТТKh,” tambah Litovkin.

Selain itu, rudal Oreshnik juga dilengkapi dengan beberapa hulu ledak, katanya.

“Semua hulu ledak tersebut dipercepat hingga mencapai kecepatan hipersonik, dengan blok pemisah yang terbang menuju target dengan kecepatan yang serupa,” ujarnya.

Beberapa pakar militer juga memperkirakan bahwa rudal baru Rusia ini dapat membawa setidaknya enam kendaraan masuk kembali yang dapat menargetkan sasaran secara independen (MIRV).

Mereka juga mencatat bahwa rudal Oreshnik, yang memiliki jangkauan menengah, dapat dengan cepat mencapai sasaran utama NATO di Eropa.

Berdasarkan beberapa perkiraan, rudal ini dapat mencapai pangkalan rudal Aegis Ashore milik AS di Redzikowo, Polandia, dalam waktu antara delapan hingga 11 menit.

Serangan Rusia dengan Rudal Oreshnik

Pada Jumat (22/11), Kremlin menyatakan bahwa penggunaan rudal balistik hipersonik yang baru dikembangkan dalam serangan terhadap Ukraina merupakan peringatan tegas bagi Barat. Moskow menegaskan akan memberikan respons keras terhadap segala tindakan “sembrono” yang dilakukan Barat dalam mendukung Ukraina.

Pernyataan ini disampaikan oleh juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, sehari setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengungkapkan bahwa rudal baru bernama Oreshnik, atau Pohon Hazel, telah diluncurkan ke fasilitas militer Ukraina. Langkah tersebut dilakukan sebagai balasan atas serangan Kyiv terhadap wilayah Rusia, yang menggunakan rudal buatan Amerika Serikat dan Inggris awal pekan ini, setelah persetujuan diberikan oleh Washington untuk pertama kalinya.

“Inti dari pesan ini adalah bahwa keputusan dan tindakan sembrono oleh negara-negara Barat yang memproduksi rudal, menyuplai senjata tersebut ke Ukraina, serta berkontribusi dalam serangan terhadap wilayah Rusia, tidak akan dibiarkan tanpa balasan dari Rusia,” ujar Peskov kepada awak media, seperti yang dilaporkan oleh Reuters.

Sumber: Sindonews.com/ CNNIndonesia.com

Redaksi

Exit mobile version