GazanaPublika.com, Jakarta — Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah pejabat senior Iran melontarkan peringatan keras terkait kemungkinan eskalasi konflik. Teheran menegaskan, jika Washington kembali melanjutkan agresi militer, konsekuensinya tidak hanya akan memperluas perang, tetapi juga dapat berubah menjadi ‘bencana strategis’ bagi kepentingan Amerika di kawasan.
Peringatan itu disampaikan Mohsen Rezaei, penasihat senior pemimpin tertinggi Iran sekaligus mantan Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran. Dalam pernyataannya, Rezaei menegaskan bahwa Iran siap menghadapi segala bentuk agresi lanjutan, termasuk konfrontasi terbuka di kawasan strategis Teluk Persia dan Laut Oman.
“Sejarah akan mencatat bahwa bangsa Iran menenggelamkan kekuatan adidaya Amerika di Teluk Persia dan Laut Oman,” kata Rezaei, seperti dilaporkan Press TV, Kamis (30/4/2026).
Pernyataan tersebut bukan sekadar retorika politik. Rezaei juga menyinggung risiko besar yang akan dihadapi pasukan Amerika jika perang memasuki fase baru. Menurut dia, sejumlah kalangan militer AS sendiri telah memperingatkan dampak fatal bila Washington memaksakan kelanjutan perang.
“Para personel militer Amerika memperingatkan jika negara tersebut melanjutkan perang, ada kemungkinan kapal-kapal mereka akan ditenggelamkan dan tentara-tentara mereka terbunuh,” imbuhnya.
Lebih jauh, Rezaei menegaskan bahwa jika serangan baru benar-benar terjadi, Iran tidak akan hanya bertahan, melainkan merespons dengan operasi militer yang lebih agresif, termasuk kemungkinan menangkap personel militer Amerika dalam jumlah besar sebagai tawanan perang.
“AS seharusnya mengharapkan bahwa kami akan menawan sejumlah besar pasukan mereka,” tegasnya.
Di tengah ancaman tersebut, situasi politik domestik di AS juga disebut menjadi faktor penting. Presiden Donald Trump dilaporkan menghadapi tekanan politik yang makin besar untuk mengakhiri perang yang dinilai mahal secara ekonomi dan kian tidak populer di dalam negeri. Konflik berkepanjangan disebut telah mendorong kenaikan harga bahan bakar, memicu keresahan publik, serta menambah kekhawatiran sekutu-sekutu Washington di kawasan.
Meski melontarkan ancaman keras, Iran tetap membuka pintu penyelesaian politik. Rezaei menyebut Teheran telah mengajukan 10 syarat yang disebutnya sebagai ‘opsi paling hemat biaya’ bagi Washington untuk mengakhiri perang. Di antara tuntutan utama Iran adalah penghentian permanen seluruh tindakan agresi, penghentian konflik di semua front, pencabutan sanksi yang dianggap ilegal, serta kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan selama perang.
Pernyataan terbaru ini memperlihatkan bahwa konflik Iran-AS masih jauh dari titik reda. Di satu sisi, jalur diplomasi tetap dibicarakan; di sisi lain, bahasa yang digunakan kedua kubu semakin keras—membuat kawasan Teluk Persia dan Laut Oman kembali menjadi titik rawan yang bisa memicu gejolak geopolitik lebih luas.

