GazanaPublika.com, Solo – Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara tegas membantah klaim Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (DPP PDIP) bahwa dirinya mengirim utusan untuk mencegah pemecatannya sebagai kader partai. Dalam kesempatan berbincang dengan wartawan di kediamannya di Solo, Jumat (14/2/2025), Jokowi menyebut tudingan tersebut sebagai hal yang “tidak masuk akal”.

“Saya tegaskan tidak ada itu. Kalau memang ada, sebutkan nama utusannya. Biar jelas,” ucap Jokowi dengan nada tegas, dikutip dari Tempo.co. Ia bahkan mempertanyakan motif di balik klaim tersebut. “Logikanya, kepentingan saya apa mengirim utusan? Ini cuma akal-akalan,” tambahnya.

Jokowi mengaku telah lama memilih diam meski terus dihadapkan pada fitnah dan kritik pedas. “Difitnah, dicela, dimaki—saya cuma diam. Tapi semua ada batasnya,” ujarnya, tanpa menjelaskan lebih lanjut “batas” yang dimaksud. Saat ditanya soal namanya yang kerap dikaitkan PDIP dalam kontroversi, ia hanya menyahut singkat: “Ya udah.”

Klaim PDIP: “Utusan Berwenang” dan Ancaman Hukum

Di sisi lain, Ketua DPP PDIP Deddy Yevri Sitorus bersikukuh dengan cerita berbeda. Dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (12/3/2025), Deddy mengungkap bahwa sehari sebelum pemecatan Jokowi, seorang “utusan berwenang” mendatangi partai. Utusan itu disebut meminta dua hal: PDIP membatalkan rencana pemecatan Jokowi dan Sekjen Hasto Kristiyanto mengundurkan diri.

“Ada pesan bahwa sembilan kader PDIP akan menjadi target KPK dan kepolisian jika partai tetap memecat Jokowi,” kata Deddy, dikutip dari *pernyataan resmi DPP PDIP*. Meski enggan menyebut identitas utusan tersebut, ia menegaskan bahwa sosok itu “memiliki kewenangan kuat”.

Misteri yang Mengganggang

Klaim dua kubu yang saling bertolak belakang ini memantik spekulasi politik. Siapa sebenarnya “utusan misterius” yang dimaksud PDIP? Apakah ini bagian dari skenario pecah kongsi antara Jokowi dan partai yang pernah mengusungnya dua kali menjadi presiden?

Politikus senior PDIP yang enggan disebut namanya berbisik kepada media: “Ini bukan sekadar soal utusan. Ini pertarungan wacana untuk menguasai narasi pascapemecatan.” Sementara pengamat politik dari Universitas Indonesia, Arif Susanto, menduga konflik ini adalah puncak ketegangan lama. “PDIP ingin menunjukkan kekuasaan simbolis, sementara Jokowi berusaha mempertahankan pengaruhnya di luar partai,” ujarnya.

Jalan Panjang Hubungan Jokowi-PDIP

Pemecatan Jokowi sebagai kader PDIP pada Desember 2024 lalu menjadi penanda retaknya hubungan mantan presiden dengan partai yang menjadi “rumah politik”-nya selama dua dekade. Retaknya hubungan ini disebut bermula dari dukungan Jokowi terhadap putranya, Gibran Rakabuming Raka, di Pilpres 2024—langkah yang dianggap PDIP melanggar kesepakatan internal.

Sejauh ini, baik Jokowi maupun PDIP belum menunjukkan tanda-tanda rekonsiliasi. Utusan misterius—jika benar ada—mungkin hanya batu ujian dalam duel klaim yang menyisakan pertanyaan: Siapa sebenarnya yang bermain di balik layar?

Redaksi

Exit mobile version