Penulis : Tedi Subarkah

GazanaPublika.com –  Sejarah pendidikan di Indonesia, secara formal dalam konteks kenegaraan, dimulai sejak gerakan Boedi Oetomo tahun 1908 yang dipelopori oleh Ki Hajar Dewantara dengan mendirikan sekolah Taman Siswa.

Pendidikan hari ini sudah relatif membaik dari sisi finansial, tetapi belum menyeluruh, khususnya dalam hal kurikulum dan metode ajar.

Kurikulum sekarang cenderung mengalienasi (mengasingkan) peserta didik dari ilmu, seolah-olah ilmu tersebut tidak berdasar pada kondisi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Yang lebih parah, peserta didik di kota-kota besar tidak tahu sawah, huma/ladang, dan hal-hal pokok sebagai penunjang kehidupan.
100% menjadi robot-robot kapitalisme, fasisme, dan komunisme, dengan topeng yang beragam.

Kritiknya: produk dalam negeri berupa manufaktur tidak diproduksi. Misalnya: traktor, kultivator, teknologi pascapanen, RDF, dan teknologi persampahan—semua masih impor. SMK pun kebanyakan hanya menghasilkan generasi tawuran, padahal ada banyak potensi yang bisa dikembangkan oleh penduduk Nusantara.

Para pengajar pun hanya bicara soal upah kerjanya, tapi sangat sedikit yang lantang menyuarakan perubahan sistemnya.

Hilangnya rasa cinta kepada alam semesta dan lingkungannya menjadi penyakit psikologis yang begitu akut, sehingga kerusakan-kerusakan alam bisa dirasakan dampaknya hari ini. Lantas, bagaimana nasib masa depan generasi nanti?

Jika di sekolah ada pelajaran Agama, maka pengetahuan semua agama pun harus diberikan. Jika tidak, lebih baik dihapuskan. Pelajaran Agama adalah pelajaran menata diri, membuka ruang dialog batin dengan sekelilingnya, serta membaca seluruh faktor alami dengan seksama, dan tentu saja melahirkan cara pandang yang bijaksana. Urusan hobi seperti olahraga, traveling, musik, dan sebagainya adalah urusan selera pribadi. Namun, dengan dasar pendidikan yang tepat, semua itu dapat dinikmati dengan baik.

Begitu juga dengan pendidikan budi pekerti, falsafah tingkah laku, serta aspek-aspek lainnya yang bersumber dari kenusantaraan, mutlak menjadi pedoman, dengan cara disesuaikan dengan alam dan lingkungannya. Sehingga semua warga mampu mengenali dan memahami kebudayaannya sendiri.

Kenapa hal ini menjadi penting? Sebab manusia hari ini sudah hampir hilang rasa kemanusiaannya. Dan yang paling berpengaruh adalah proses pendidikannya. Lagi-lagi, kita bertanya: mau ke mana pendidikan kita?

Mau ke mana arah dan tujuan pendidikan kita, jika hanya menghasilkan robot-robot industri? Lebih baik diperkuat saja lembaga-lembaga kursus sebagai penyedia tenaga kerja profesional.

Oleh sebab itu, menata kembali sistem pendidikan adalah keharusan. Memanusiakan manusia adalah kodrat dan kewajiban.

Rahayu… Sagung Dumadi…
Merdeka atau Mati.

Tulisan ini dipersembahkan sebagai pengingat lahirnya Tokoh Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, yaitu pada tanggal 2 Mei 1889.

Penulis adalah budayawan, pemerhati pendidikan, serta aktivis ’98 asal Bandung yang kini tinggal di Cianjur.

Redaksi

Exit mobile version