Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Pendidikan Kita Mau Kemana?

Pendidikan Kita Mau Kemana?

Opini Jumat, 2 Mei 2025 13:54 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

Penulis : Tedi Subarkah

GazanaPublika.com –  Sejarah pendidikan di Indonesia, secara formal dalam konteks kenegaraan, dimulai sejak gerakan Boedi Oetomo tahun 1908 yang dipelopori oleh Ki Hajar Dewantara dengan mendirikan sekolah Taman Siswa.

Advertisement

Pendidikan hari ini sudah relatif membaik dari sisi finansial, tetapi belum menyeluruh, khususnya dalam hal kurikulum dan metode ajar.

Kurikulum sekarang cenderung mengalienasi (mengasingkan) peserta didik dari ilmu, seolah-olah ilmu tersebut tidak berdasar pada kondisi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Yang lebih parah, peserta didik di kota-kota besar tidak tahu sawah, huma/ladang, dan hal-hal pokok sebagai penunjang kehidupan.
100% menjadi robot-robot kapitalisme, fasisme, dan komunisme, dengan topeng yang beragam.

Kritiknya: produk dalam negeri berupa manufaktur tidak diproduksi. Misalnya: traktor, kultivator, teknologi pascapanen, RDF, dan teknologi persampahan—semua masih impor. SMK pun kebanyakan hanya menghasilkan generasi tawuran, padahal ada banyak potensi yang bisa dikembangkan oleh penduduk Nusantara.

BACA JUGA:  Melirik Dukungan Pusat untuk Perkebunan Jawa Barat

Para pengajar pun hanya bicara soal upah kerjanya, tapi sangat sedikit yang lantang menyuarakan perubahan sistemnya.

Hilangnya rasa cinta kepada alam semesta dan lingkungannya menjadi penyakit psikologis yang begitu akut, sehingga kerusakan-kerusakan alam bisa dirasakan dampaknya hari ini. Lantas, bagaimana nasib masa depan generasi nanti?

Jika di sekolah ada pelajaran Agama, maka pengetahuan semua agama pun harus diberikan. Jika tidak, lebih baik dihapuskan. Pelajaran Agama adalah pelajaran menata diri, membuka ruang dialog batin dengan sekelilingnya, serta membaca seluruh faktor alami dengan seksama, dan tentu saja melahirkan cara pandang yang bijaksana. Urusan hobi seperti olahraga, traveling, musik, dan sebagainya adalah urusan selera pribadi. Namun, dengan dasar pendidikan yang tepat, semua itu dapat dinikmati dengan baik.

Begitu juga dengan pendidikan budi pekerti, falsafah tingkah laku, serta aspek-aspek lainnya yang bersumber dari kenusantaraan, mutlak menjadi pedoman, dengan cara disesuaikan dengan alam dan lingkungannya. Sehingga semua warga mampu mengenali dan memahami kebudayaannya sendiri.

BACA JUGA:  Badai Ekonomi Nasional: Ketika Kebijakan Populis dan Efisiensi Fiskal Jepit Rakyat

Kenapa hal ini menjadi penting? Sebab manusia hari ini sudah hampir hilang rasa kemanusiaannya. Dan yang paling berpengaruh adalah proses pendidikannya. Lagi-lagi, kita bertanya: mau ke mana pendidikan kita?

Mau ke mana arah dan tujuan pendidikan kita, jika hanya menghasilkan robot-robot industri? Lebih baik diperkuat saja lembaga-lembaga kursus sebagai penyedia tenaga kerja profesional.

Oleh sebab itu, menata kembali sistem pendidikan adalah keharusan. Memanusiakan manusia adalah kodrat dan kewajiban.

Rahayu… Sagung Dumadi…
Merdeka atau Mati.

Tulisan ini dipersembahkan sebagai pengingat lahirnya Tokoh Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, yaitu pada tanggal 2 Mei 1889.

Penulis adalah budayawan, pemerhati pendidikan, serta aktivis ’98 asal Bandung yang kini tinggal di Cianjur.

Advertisement

Pendidikan
Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Opini

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

Opini

Djati Niscala Eco Theologi Sunda—Kajian Horoskop Pusaka Kujang Niscala Sunda

Opini

Melirik Dukungan Pusat untuk Perkebunan Jawa Barat

Opini

Andai Pengelolaan MBG Swakelola Kantin Sekolah, Bagaimana?

BERITA TERBARU

Keluhan Mitra Dapur Program Makan Bergizi Gratis Soal Keracunan

Tuai Kecaman, Trump Ancam Terapkan Tarif Kargo Selat Hormuz

Rumah Anggota BPK Digeledah KPK

Sinergi Penegak Hukum: Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo Sambangi Kejagung, Tekankan Hilangnya Rivalitas

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

Djati Niscala Eco Theologi Sunda—Kajian Horoskop Pusaka Kujang Niscala Sunda

Melirik Dukungan Pusat untuk Perkebunan Jawa Barat

RAGAM

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Narasi Tandingan: Apakah Bintang Sebagaimana Matahari?

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini
© 2026 Gazana Publika | Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.