Penulis: Ki Banjar Agung
GAZANAPUBLIKA.COM– Tasawuf tidak semata-mata membahas persoalan Ketuhanan, akhlak dan adab, meskipun ketiganya merupakan substansi yang sangat utama. Namun, suka atau tidak suka, aspek yang paling penting dalam tasawuf justru terletak pada persoalan kebatinan. Sebagaimana telah disinggung pada bagian sebelumnya, seorang mukmin dituntut untuk beriman kepada perkara-perkara gaib sebagaimana dijelaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an.
Ilmu kebatinan dapat dijelaskan melalui pendekatan keilmuan. Karena itu muncul istilah ilmu batin. Disebut ‘ilmu’ sebab di dalamnya terdapat proses pemahaman—yakni pemahaman makrifat. Perbedaannya dengan ilmu pengetahuan terletak pada sumber dan manifestasinya: ilmu pengetahuan bersumber dari akal dan berwujud dalam karya, sedangkan ilmu kebatinan bersumber dari hati dan mewujud dalam kekuatan serta kemampuan yang berada di luar nalar manusia.
Proses pencapaian kebatinan mungkin tidak dapat dijelaskan oleh akal, sebab tahapan-tahapannya ditempuh melalui laku lampah—pengalaman spiritual yang melampaui logika. Segala prosesnya terjadi di luar hukum kausalitas. Akibat memang tampak hadir, namun hubungan sebab-akibatnya tidak dapat dijelaskan secara rasional. Yang dapat disaksikan hanyalah hasil atau efek dari proses tersebut.
Karena itu, penelaahan terhadap ilmu kebatinan dilakukan melalui paradigmanya, bukan melalui logika sebab-akibat. Misalnya, dengan menjalankan puasa tertentu seseorang dapat mencapai tingkat kebatinan tertentu. Inilah bagian dari makrifat, yaitu pengetahuan yang lahir dari pengalaman batin langsung.
Sesungguhnya, setiap ilmu lahir tanpa harus selalu disandarkan pada dalil tekstual. Ilmu akal pun demikian—menekankan proses kreasi berpikir. Begitu pula ilmu kebatinan, yang berpijak pada proses laku. Namun demikian, tujuan dari setiap ilmu tetap harus disandarkan pada dalil, yakni agar proses yang ditempuh tetap berada di jalan maslahat dan tidak menuju kemungkaran.
Tasawuf, dengan demikian, tidak hanya berbicara tentang akhlak dan adab manusia, atau sekadar tentang capaian menuju Ilahi. Salah satu bagian terdalam dari tasawuf adalah kebatinan itu sendiri, sebab di dalamnya tersimpan kekuatan iman yang jauh melampaui proses nalar. Ilmu kebatinan memperlihatkan bukti keberadaan Allah melalui pengalaman spiritual yang terjadi di ranah gaib—sebuah wilayah di mana keajaiban dapat disaksikan oleh mata batin.
Melalui kebatinan, keyakinan seseorang diuji sekaligus diteguhkan. Keyakinan menjadi pilar utama dalam perjalanan batin; tanpa keyakinan yang kuat, ilmu kebatinan mustahil diraih dan tidak akan terbukti.
Berbeda dengan ilmu akal, yang justru sering memperlihatkan keterbatasannya. Semakin tinggi seseorang menuhankan akalnya, semakin tipis keyakinannya. Orang yang hanya mengandalkan kekuatan rasio akan mudah menyebut sesuatu yang di luar nalar sebagai ‘mustahil.’ Padahal, ilmu kebatinan justru menjadikan yang mustahil tampak nyata dan dapat dicapai. Di sinilah letak dimensi ketuhanan—bahwa segala proses yang bersumber dari hati memerlukan keyakinan penuh kepada Allah.
Sebagaimana Allah dapat dipahami sebagian kecil melalui akal, sisi halus dan rahasia-Nya hanya dapat dipahami melalui batin. Akal hanya mampu menangkap serpihan kecil dari realitas Ilahi; ia tidak dapat menjangkau di mana keberadaan Allah, di mana Arasy-Nya, dan seperti apa surga-Nya.
Demikian pula ilmu kebatinan. Kita tidak dapat menunjukkan secara empiris di mana alam batin berada. Namun, seorang ahli kebatinan dapat menembus berbagai dimensi dan batas-batas ruang spiritual, meski tidak dapat menunjukkan keberadaannya secara fisik.
Begitu pentingnya ilmu kebatinan, bukan hanya untuk menegakkan kebenaran, tetapi juga untuk membuktikan eksistensi alam di balik alam—bahwa seluruh jagat raya berada di bawah kekuasaan Allah, dan seorang yang menempuh jalan batin dapat menyaksikan bagaimana seluruh alam itu tunduk dalam satu kehendak-Nya.
Ilmu kebatinan memiliki cabang dan jenis yang tak terhitung banyaknya, sebagaimana luasnya ragam ilmu pengetahuan yang dikenal oleh akal. Keduanya sejatinya saling melengkapi: akal menuntun manusia memahami ciptaan, sedangkan batin menuntun manusia memahami Sang Pencipta.

