Advertisement
Penulis: Ki Banjar Agung
GazanaPublika.com – Pernahkah kita mendengar seseorang bergumam lirih, “Saya sudah tidak mungkin berubah… saya terlalu banyak dosa… saya tidak akan pernah sukses…”? Kalimat-kalimat seperti itu terdengar sederhana, bahkan mungkin sekadar ungkapan kecewa. Tetapi bila kita resapi lebih dalam, di balik kata-kata itu tersimpan sebuah luka batin: rasa putus asa, hilangnya harapan, dan keyakinan bahwa dirinya tidak lagi layak menerima rahmat Allah.
Advertisement
Inilah penyakit jiwa yang sering tidak disadari. Ia tidak meneteskan darah, tidak meninggalkan bekas luka di kulit, namun perlahan-lahan membunuh kehidupan seseorang dari dalam. Orang tersebut masih berjalan, masih bernafas, namun jiwanya telah kehilangan cahaya. Dan sungguh, ini adalah bentuk bunuh diri yang paling sunyi.
Islam dengan tegas melarang manusia mengakhiri hidupnya sendiri. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 29: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”
Ayat ini menegaskan larangan bunuh diri dalam arti fisik. Hidup adalah amanah dari Allah, dan hanya Dia yang berhak menentukan kapan kehidupan seseorang berakhir. Tetapi, tafsir kehidupan yang lebih luas mengajarkan kita: “Membunuh diri” tidak hanya berarti menghilangkan nyawa, melainkan juga bisa berarti membunuh semangat, membunuh jiwa, bahkan membunuh harapan.
Ketika seseorang berkata:
• “Ah, saya tidak mungkin kaya, kondisi saya begini saja.”
• “Saya ini orang lemah, bagaimana mungkin bisa sukses.”
• “Saya terlalu banyak dosa, tidak mungkin Allah menerima taubat saya.”
Kalimat-kalimat itu sesungguhnya adalah racun yang membunuh jiwa. Ia ibarat menutup pintu rezeki, pintu perubahan, bahkan pintu ampunan Allah, padahal Allah sendiri tidak pernah menutupnya.
Ingatlah, Allah selalu membuka kesempatan bagi hamba-Nya. Rahmat-Nya tidak terbatas, ampunan-Nya lebih luas daripada lautan, dan kasih sayang-Nya melampaui kesalahan manusia. Oleh karenanya janganlah menutup kehidupan diri sendiri, ucapan hati dan lisan, sangat berbahaya bagi diri sendiri. Hal itu seperti sebuah doa. Ketika seorang hamba meyakini dirinya tidak layak untuk berubah, maka ia seakan-akan telah mendahului takdir.
“Takdir belum datang kepadamu, tetapi engkau telah menentukan takdirmu sendiri”.
Inilah hakikat pesimisme. Orang yang berkata “saya tidak mungkin berhasil” sesungguhnya sudah memutus jalan sebelum melangkah. Orang yang berkata “saya tidak mungkin diampuni” sudah menutup pintu sebelum mengetuk. Padahal takdir Allah sering kali datang dengan cara yang tidak pernah kita duga.
Bukankah Umar bin Khattab dahulu seorang yang keras menentang Islam, namun akhirnya menjadi khalifah mulia yang dijamin masuk surga? Bukankah sahabat Nabi yang pernah hidup dalam kejahiliahan akhirnya mendapat kemuliaan karena hidayah Allah?
Jika mereka menyerah pada prasangka buruk terhadap diri sendiri, barangkali sejarah tidak akan mengenal nama mereka. Tetapi karena mereka yakin, berusaha, dan membuka diri pada rahmat Allah, maka Allah membalikkan hidup mereka.
Membunuh Jiwa Adalah Hilangnya Iman
Ketika seseorang membunuh semangat dan harapannya, sesungguhnya yang mati bukan hanya motivasi, tetapi juga iman. Karena pada dasarnya, sikap pesimis yang menganggap Allah tidak akan menolong, tidak akan memberi rezeki, atau tidak akan menerima taubat, adalah tanda kurangnya keyakinan terhadap sifat-sifat Allah.
Seorang mukmin sejati tidak pantas berkata demikian. Karena menjadi mukmin berarti percaya bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya dan penolong makhluknya. Menjadi mukmin berarti yakin bahwa jalan keluar selalu ada, meski kita belum melihatnya. Menjadi mukmin berarti terus melangkah, meski terasa berat, karena kita percaya Allah tidak pernah meninggalkannya
Maka, “wahai diri, berhati-hatilah dengan ucapan yang keluar dari lisanmu.” Jangan membunuh jiwa dengan kalimat putus asa. Jangan meracuni harapan dengan prasangka buruk. Jangan matikan iman dengan keyakinan bahwa Allah tidak akan menolongmu.
Sebab, setiap kali kamu berkata, “Saya tidak bisa,” sebenarnya kamu sedang membunuh dirimu sedikit demi sedikit. Dan setiap kali kamu berkata, “Saya masih bisa, Allah bersamaku dan katakanlah insya Allah,” saat itu kamu sedang menghidupkan dirimu kembali.
Hidup ini adalah anugerah. Selama masih ada nafas, berarti masih ada harapan. Selama masih ada doa, berarti masih ada jalan. Dan selama masih ada Allah — yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang — berarti tidak ada alasan untuk menyerah.
Advertisement
