GazanaPublika.com – Dalam ajaran Islam, dianjurkan untuk mempelajari ilmu bela diri. Ilmu bela diri memiliki substansi yang lebih dari sekadar meningkatkan mental dan kewaspadaan. Selain itu, ilmu ini berfungsi untuk menjaga diri dari berbagai bahaya dan potensi gangguan yang dapat datang dari musuh atau individu yang bersikap bermusuhan. Mengingat pentingnya aspek ini, Allah SWT menyarankan umat-Nya untuk mempelajari ilmu bela diri sebagai bentuk upaya perlindungan diri.

Firman Allah SWT:

وَاَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ وَّمِنْ رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُوْنَ بِهٖ عَدُوَّ اللّٰهِ وَعَدُوَّكُمْ وَاٰخَرِيْنَ مِنْ دُوْنِهِمْۚ لَا تَعْلَمُوْنَهُمْۚ اَللّٰهُ يَعْلَمُهُمْۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يُوَفَّ اِلَيْكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تُظْلَمُوْنَ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” [QS. Al-Anfal : 60]

Penting untuk dipahami bahwa ilmu bela diri tidak hanya bersifat fisik semata, tetapi juga melibatkan aspek mental dan spiritual. Dengan memahami dan menguasai ilmu bela diri, seseorang dapat menjaga keamanan diri secara komprehensif dan menjaga keimanan kepada Allah SWT.

Oleh karena itu, ajaran Islam memandangnya sebagai suatu bentuk pengetahuan yang memberikan manfaat dan keselamatan bagi individu. Dengan memahami dan mengikuti anjuran ini, umat Islam diingatkan untuk senantiasa melindungi diri dari potensi bahaya serta menghadapi musuh dengan bijaksana dan penuh kewaspadaan.

Siti Aisyah juga menceritakan bahwa dia pernah melihat Rasulullah sedang belajar bermain pedang. Dari As Sunah, Imam An Nawawi Rahimahullah menceritakan: Ucapan ‘Aisyah:

“Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menutupi aku dengan selendangnya, saat itu aku menyaksikan orang-orang Habsyah (Etiopia) yang bermain sedang-main, dan saat itu aku masih remaja, dalam riwayat lain- mereka bermain dengan alat -alat perang mereka di masjid Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

Pada kisah ini menunjukkan bolehnya memainkan senjata dan alat-alat perang lainnya di dalam masjid. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6/184)

Nabi Muhammad SAW mengajarkan beberapa hal lain, seperti keterampilan memanah, berkuda, dan berenang. Semua ini tidak hanya dipelajari untuk memiliki keahlian dalam beladiri dan ketangkasan yang include di dalamnya, tetapi juga untuk tujuan perang dan menjaga diri. Baik beladiri maupun keterampilan perang diajarkan hanya unruk tujuan menjaga diri seorang mukmin, dan tidak menganjurkan lakukan serangan agresif lebih dahulu.

Penting dicatat bahwa pembelajaran bela diri tidak memiliki spesifikasi tertentu mengenai jenis beladiri yang terbaik. Namun, disarankan untuk memahami bahwa setiap individu dapat menyesuaikan diri dengan kearifan lokal di daerahnya.

Sebagai contoh, di Banten, para sufi dari aliran Rifa’iyah menggabungkan pembelajaran ilmu bela diri Cimande sebagai bagian dari persiapan diri dan menyatu dengan pengajaran tasawuf. Sudah tentu, beladiri Cimande diintegrasikan dengan ajaran Islam yang tercermin dalam taleknya.

Foto: wordpress.com

Dalam perguruan Cimande dikenal dengan istilah “talek,” yang berarti sumpah. Sebenarnya dalam ilmu Cimande telah terdapat praktik tasawuf dengan memberikan talek kepada muridnya melalui proses mengambil sumpah. Sumpah ini bertujuan agar murid mampu menjaga dirinya dari perbuatan yang tidak terpuji, seperti melawan orang tua, sombong. kemaksiatan dan kemungkaran.

Beberapa isi talek yang diperkenalkan dalam ilmu Cimande antara lain:

• Harus taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
• Jangan melawan kepada ibu dan bapak serta orang yang sudah tua.
• Jangan melawan kepada guru dan ratu (pemerintah).
• Jangan jud! dan mencuri.
•  Jangan ria takabur dan sombong.
• Jangan berbuat z!na.
• Jangan bohong dan licik.
• Jangan mabuk-mabukan dan menghisap m4dat.
• Jangan jahil, menganiaya sesama makhluk Tuhan.
• Jangan memetik tanpa izin mengambil tanpa minta.
• Jangan suka iri hati dan dengki.
• Jangan suka tidak membayar hutang.
• Harus sopan santun, rendah hati,ramah tamah dan saling menghargai sesama manusia.
• Berguru Cimande bukan untun gagah-gagahan, kesombongan, dan ugal-ugalan, tapi untuk mencari keselamatan dunia dan akherat.

Tujuan Talek ini, seperti disebutkan adalah untuk menjaga diri seorang murid dari perbuatan yang tidak baik. Sebaliknya, apabila dilanggar ada konsekuensinya, murid akan mendapat akibat dari Allah SWT, termasuk mungkin mendapat bala dari-Nya.

Dengan cara ini, seorang murid akan berusaha menjaga dirinya dengan berpegang pada talek yang telah diucapkannya kepada guru. Dan Tarik ini juga bertujuan untuk meningkatkan derajat ilmu.

Meskipun saat ini mungkin tidak semua orang mengetahui keterkaitan antara Cimande dengan salah satu tarekat atau tasawuf, yang paling penting bukanlah mengenai pengakuan secara personal, melainkan nilai-nilai yang tercermin dalam prilaku pemegang beladiri tersebut.

Substansinya adalah menjaga diri dan kesetiaan kepada Allah, yang sebenarnya mencerminkan nilai-nilai dalam tasawuf. Jika bela diri diarahkan untuk jihad membela kebenaran, maka ajaran tasawufnya berkaitan dengan mujahadah. Karena jihad dan mujahadah erat kaitannya, di mana jihad melibatkan latihan fisik, sedangkan mujahadah mencakup latihan batiniyah.

Penulis:
Ki Banjar Agung

Penulis

Exit mobile version