Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Merdeka, Jangan Berlindung di Balik Slogan Pancasila

Merdeka, Jangan Berlindung di Balik Slogan Pancasila

Banten Selasa, 18 Agustus 2026 0:48 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

Oleh: M. Febi Pirmansyah

GazanaPublika.com — Di tengah derasnya perubahan sosial, pemerintah dan para pemangku kebijakan tidak boleh kehilangan kompas nilai. Pancasila jangan hanya menjadi kalimat seremonial yang lantang diucapkan dalam pidato, tetapi kemudian kehilangan makna ketika berhadapan dengan kepentingan, tekanan, atau dalih kebebasan.

Advertisement

Kita patut mempertanyakan konsistensi para pejabat yang di satu sisi berbicara tentang ketahanan keluarga, moral bangsa, dan penguatan karakter generasi muda, tetapi di sisi lain justru membuka ruang bagi berbagai bentuk promosi atau normalisasi perilaku seksual yang bertentangan dengan nilai yang diyakini sebagian besar masyarakat.

Jangan sampai pemerintah sibuk menyerukan Pancasila, tetapi kebijakannya justru memberikan legitimasi sosial terhadap sesuatu yang sebelumnya dianggap perlu dibatasi.

Kritik ini bukan ajakan untuk membenci atau melakukan kekerasan terhadap siapa pun. Setiap warga negara tetap harus diperlakukan secara manusiawi. Namun, menghormati seseorang sebagai manusia tidak berarti pemerintah harus memberikan dukungan, fasilitas, promosi, atau ruang publik bagi setiap bentuk perilaku dan kampanye yang dipersoalkan secara moral oleh masyarakat.

BACA JUGA:  Pelantikan Raya PMII Se-Komisariat STAINH Malingping: Teguhkan Semangat Literasi

Di sinilah keberanian pemerintah diuji. Apakah pejabat publik benar-benar berdiri di atas kepentingan bangsa, atau justru mudah mengikuti arus dengan berlindung di balik jargon toleransi, keberagaman, dan kebebasan?

Toleransi tidak boleh berubah menjadi normalisasi. Kebebasan tidak boleh dijadikan alasan untuk menghapus batas nilai. Dan pemberdayaan tidak boleh menjadi pintu belakang untuk mempromosikan sesuatu yang secara sosial masih menjadi persoalan serius di tengah masyarakat.

Para pejabat dan pemangku kebijakan harus berhati-hati. Jangan menggunakan uang negara, fasilitas publik, institusi pendidikan, maupun ruang kebudayaan sebagai sarana yang secara tidak langsung mempromosikan atau melegitimasi perilaku seksual tertentu sebagai sesuatu yang harus dinormalisasi.

Jika pemerintah memang serius menjaga Pancasila, maka ukurannya bukan sekadar pidato. Ukurannya adalah keberanian mengambil kebijakan yang konsisten dengan nilai-nilai yang selama ini mereka deklarasikan sendiri.

BACA JUGA:  Polda Banten Salurkan Bantuan Sosial bagi Warga Terdampak Gempa Nusa Tenggara Timur

Jangan sampai Pancasila hanya dijadikan slogan ketika membutuhkan suara rakyat, tetapi dilupakan ketika berhadapan dengan agenda dan tekanan zaman.

Pemerintah harus hadir sebagai penjaga kepentingan publik, bukan menjadi pihak yang justru mempercepat perubahan norma tanpa kajian sosial yang matang. Kebijakan publik harus berpihak pada ketahanan keluarga, perlindungan anak, pendidikan karakter, kesehatan masyarakat, serta masa depan generasi bangsa.

Maka, kepada para pejabat dan pemangku kebijakan: jangan melakukan normalisasi secara diam-diam melalui kebijakan, acara, fasilitas, ataupun dukungan institusional. Jika sebuah kebijakan menyangkut perubahan nilai sosial yang fundamental, jangan terburu-buru mengatasnamakan kemajuan. Ukur terlebih dahulu dampaknya terhadap keluarga, generasi muda, dan karakter bangsa. Sebab mempertahankan Pancasila tidak cukup dengan mengucapkannya.

Pancasila harus dibuktikan dengan keberanian untuk berkata tidak ketika sebuah kebijakan dinilai bertentangan dengan nilai yang hendak kita jaga.

Merdeka, Dirgahayu Bangsaku RI ke-81. STOP Normalisasi LGBT & BOTI

Penulis adalah komunitas Founder Ruang Berfikir

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

Advertisement

BERITA LAINNYA

Banten

Gelar Giat Cacahan Warga Banten, Forwatu Berkomitmen Menjaga Kondusivitas dan Tetap Kritis

Banten

Peduli Warga Terdampak Kekeringan, Polda Banten Distribusikan 6.500 Liter Air Bersih di Tigaraksa

Banten

TTKKBI Cilegon Open Fest 2026 Meriah, Puluhan Perguruan Tampilkan Seni Pencak Silat Tingkat Nasional

Banten

Lemkapi Berikan Penghargaan Kepada Dirreskrimsus Polda Banten Atas Dedikasi dan Komitmen Berantas Kejahatan Khusus

BERITA TERBARU

Gelar Giat Cacahan Warga Banten, Forwatu Berkomitmen Menjaga Kondusivitas dan Tetap Kritis

Peduli Warga Terdampak Kekeringan, Polda Banten Distribusikan 6.500 Liter Air Bersih di Tigaraksa

TTKKBI Cilegon Open Fest 2026 Meriah, Puluhan Perguruan Tampilkan Seni Pencak Silat Tingkat Nasional

Lemkapi Berikan Penghargaan Kepada Dirreskrimsus Polda Banten Atas Dedikasi dan Komitmen Berantas Kejahatan Khusus

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.