GazanaPublika.com, Pandeglang – Masyarakat berharap pemerintah segera membangun akses jalan menuju Cagar Budaya Situs Munjul, tempat ditemukannya Prasasti Cidanghiang, yang terletak di Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.
Prasasti Cidanghiang merupakan salah satu peninggalan penting dari Kerajaan Tarumanagara, yang terletak di tepi aliran Sungai Cidanghiang, tepatnya di Kampung Lebak RT 03 RW 02, Desa Lebak, Kecamatan Munjul. Lokasinya berada pada koordinat 0°55’40,54” BB dan 6°38’27”57” LS dari arah Jakarta.
Prasasti ini sejaman dengan Prasasti Tugu, dan diperkirakan berasal dari abad ke-5 Masehi. Pertama kali dilaporkan oleh Toebagus Roesjan kepada Dinas Purbakala pada tahun 1947 (OV 1949:10), prasasti ini baru diteliti secara resmi pada tahun 1954.
Ditulis dalam aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta berbentuk seloka dengan metrum anustubh, prasasti ini dipahat pada batu andesit berukuran 3,2 x 2,25 meter. Tulisan pada permukaan batu ini memiliki kedalaman kurang dari 0,5 cm, menghasilkan permukaan yang nyaris rata dan halus. Gaya aksaranya mirip dengan Prasasti Tugu dari periode yang sama.
Salah satu kalimat penting dalam prasasti ini berbunyi:
vikrantoyaṃvanipatéḥ prabhūḥsatyapara (k) ra (mah) narèndraddhvajabhūténa śrīmataḥpurṇṇavarmmaṇaḥ’
“Inilah (tanda) keperwiraan, keagungan, dan keberanian sejati dari raja dunia, yang mulia Purnawarman, panji para raja.”
Marsa (52), warga Kampung Lebak, menyampaikan harapannya agar pemerintah segera membangun akses jalan menuju lokasi prasasti. Ia yakin, jika jalan dibangun dan situs dikelola dengan baik, jumlah pengunjung akan meningkat dan memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat sekitar.
“Saya berharap jalan menuju Prasasti Cidanghiang ini bisa segera dibangun pemerintah. Kalau jalannya bagus, pengunjung akan semakin banyak, dan masyarakat juga bisa meningkatkan penghasilan dengan berjualan di sekitar lokasi,” ujar Marsa, Rabu (23/4/2025).
Ia menambahkan bahwa sebelumnya sempat ada warga yang membuka usaha warung kopi, makanan, bahkan penginapan di sekitar lokasi. Namun sayangnya, inisiatif tersebut tidak bertahan lama karena kurangnya pengelolaan yang baik.
“Beberapa tahun lalu sempat ada yang berjualan makanan dan membuka penginapan di sini, tapi hanya berlangsung sebentar karena pengelolaannya kurang optimal,” jelasnya.
Marsa juga menyebutkan bahwa Prasasti Cidanghiang cukup sering dikunjungi, terutama oleh rombongan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan di Pandeglang dan daerah lain.
“Banyak pengunjung yang datang, terutama rombongan anak sekolah SD, SMP, dan SMA, baik dari Pandeglang, Lebak, bahkan ada juga dari luar daerah,” tutupnya.

