Advertisement
GazanaPublika.com,Serang – Saat fajar baru menyentuh langit timur pada Sabtu pagi, 3 Mei 2025, langkah kaki terdengar perlahan di jalanan Kota Serang yang masih lengang. Dari kejauhan, tampak barisan warga berpakaian putih dan hitam-hitam, menyusuri aspal dengan tenang. Mereka adalah warga Baduy, yang sejak dini hari telah tiba di Serang, tepat pukul 06.00 WIB, melanjutkan ritual tahunan penuh makna: Seba Baduy.
Sebanyak 1.769 warga Baduy, terdiri dari Baduy Dalam dan Baduy Luar, menempuh perjalanan panjang dari Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, menuju Gedung Negara Provinsi Banten. Tidak dengan kendaraan, tidak dengan kemewahan—mereka berjalan kaki, mengandalkan kekuatan tradisi dan keyakinan akan kewajiban adat untuk menghormati “para panggede” atau pemimpin pemerintahan.
Advertisement
Namun sebelum memasuki tahapan seremoni besar, mereka lebih dahulu menjalani rangkaian kegiatan adat, termasuk ritual tertutup masyarakat adat Baduy Baru, serta perjalanan menuju tempat mandi suci, sebuah bagian penting yang menandai kesiapan spiritual untuk mengikuti Seba.
Menapaki Jejak Leluhur Menuju Gedung Negara
Seba bukanlah sekadar agenda budaya—ia adalah ikrar diam dari sebuah komunitas adat yang telah ratusan tahun hidup dalam keselarasan bersama alam. Dalam setiap langkah kaki, tersimpan pesan tentang ketekunan, kesederhanaan, dan keyakinan teguh terhadap adat sebagai kompas hidup.
Rangkaian acara dimulai sejak siang hari, dengan kunjungan ke Museum Purbakala Banten. Acara ini mulai Sabtu siang 3 Mei 2025. Pukul 14.30 WIB. Lokasi: Museum Purbakala Banten. Acara tersebiut adalah persiapan dan berkumpul peserta baris kolot, perjalanan menuju Museum Purbakala, ritual tertutup masyarakat adat Baduy Baru yang ikut Seba, dan perjalanan kembali ke Gedung Negara
Sesi ini bukan untuk tontonan umum. Prosesi dilakukan dalam keheningan, hanya diikuti oleh komunitas adat dan beberapa tokoh pendamping. Tempat mandi suci yang disinggahi menjadi ruang sakral, bukan hanya untuk membersihkan tubuh, tetapi juga hati dan niat.
“Ini Bukan Tontonan, Tapi Tuntunan”
Puncak prosesi berlangsung malam harinya di Gedung Negara dan Alun-Alun Kota Serang, dihadiri oleh Gubernur Banten Andra Soni, serta perwakilan kementerian dan tokoh adat.
Pada Sabtu (3/5/2025) Pukul 19.30 WIB sampai tengah malam, acara dilaksanakan di Gedung Negara Provinsi Banten & Alun-Alun Kota Serang adalah Tradisi Inti Seba oleh masyarakat adat Baduy, pamuka Basa (Pembukaan), Murwa Seba (Inti ritual), penyerahan Laksa kepada Bapak Gede (Gubernur), sambutan Gubernur Banten, sambutan Menteri Kebudayaan RI, penyerahan kadeudeuh dari Pemerintah kepada masyarakat Baduy, hingga pagelaran Wayang Golek Rampak Opat
Dalam sambutannya, Gubernur Andra Soni menegaskan makna Seba sebagai tuntunan hidup, bukan sekadar tontonan budaya. Ia mengajak seluruh masyarakat Banten untuk belajar dari cara hidup Baduy yang sederhana, disiplin, dan penuh tata krama.
“Tak ada suara saat mereka makan. Tak ada yang menyela saat mereka bicara. Semua dijalani dengan tertib dan hormat. Ini pelajaran besar di tengah dunia yang makin gaduh,” kata Andra.
Wayang Golek “Rampak Opat” yang dibawakan oleh tiga dalang ternama—Anjar Mukhtar AS, Karyandi J Ade S Putra, dan Aming Ajem—menutup malam penuh makna. Lakon-lakon tradisional disuguhkan bukan hanya sebagai hiburan, tapi juga sarana refleksi atas nilai-nilai moral, budaya, dan identitas.
Seba Panungtungan: Langkah Penutup Penuh Simbol
Keesokan harinya, Minggu pagi, warga Baduy kembali hadir untuk sesi penutup: Seba Panungtungan—langkah simbolik yang menandai berakhirnya prosesi Seba dan kembalinya mereka ke tanah leluhur.
Pada hari Minggu, 4 Mei 2025 , pukul 06.30 WIB sampai dengan selesai, acara yang akan diselenggarakan ialah persiapan mumuluk bareng Gubernur dan warga Baduy, prosesi mumuluk (berjalan kaki bersama sebagai simbol perpisahan), ramah tamah dan jamuan ringan., serta sesi foto bersama. Acara akan dilaksanakan di Gedung Negara Provinsi Banten & Alun-Alun Kota Serang.***
Advertisement
Advertisement
