GazanaPublika.com, Davos — Di sela-sela panggung utama World Economic Forum (WEF) 2026, sebuah forum politik baru lahir di jantung Pegunungan Alpen. Presiden Prabowo Subianto berdiri sejajar dengan tujuh pemimpin dunia lainnya dalam peluncuran Board of Peace Gaza, sebuah inisiatif yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan diproyeksikan sebagai kerangka awal tata kelola sementara di wilayah Palestina tersebut.
Acara berlangsung di Congress Hall, Davos, Kamis (22/1), dengan suasana yang lebih menyerupai pertemuan strategis ketimbang seremoni diplomatik. Di hadapan para delegasi internasional dan perwakilan media global, delapan negara menyatakan komitmen bergabung dalam Dewan Perdamaian Gaza: Indonesia, Turki, Mesir, Yordania, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Momen puncak terjadi ketika para kepala negara satu per satu menandatangani Piagam Dewan
Perdamaian. Tayangan yang disiarkan kanal YouTube The House memperlihatkan Presiden Prabowo ikut membubuhkan tanda tangan di bawah pengawasan langsung Donald Trump, menandai keterlibatan resmi Indonesia dalam struktur baru yang diarahkan pada pengelolaan masa depan Gaza.
Trump, dalam penjelasannya, menggambarkan dewan tersebut sebagai “otoritas sementara” yang akan berperan mengoordinasikan mobilisasi sumber daya internasional bagi rakyat Palestina di Gaza. Fokusnya tidak hanya pada bantuan kemanusiaan, tetapi juga pada pengaturan dukungan global dalam fase transisi pascakonflik.
Peluncuran ini langsung menarik perhatian pengamat internasional. Kehadiran negara-negara dari Timur Tengah dan Asia Selatan dalam satu meja dinilai mencerminkan upaya membangun poros regional yang dapat menjadi penyeimbang dalam dinamika diplomasi Gaza yang selama ini didominasi kekuatan Barat.
Bagi Indonesia, keikutsertaan dalam Dewan Perdamaian ini menempatkan Jakarta pada posisi yang lebih terbuka dalam percaturan politik internasional terkait Palestina. Langkah tersebut juga mempertegas peran diplomasi aktif yang selama ini diklaim pemerintah dalam isu-isu kemanusiaan global.
Sementara itu, di Davos, peluncuran Board of Peace Gaza menjadi salah satu agenda paling disorot di luar forum ekonomi itu sendiri. Di tengah diskusi tentang pertumbuhan global dan stabilitas pasar, pertemuan ini menghadirkan pesan lain: bahwa konflik di Timur Tengah tetap menjadi variabel besar dalam arsitektur politik dunia.
Apakah Dewan Perdamaian ini akan benar-benar menjadi otoritas efektif di Gaza atau hanya simbol diplomasi multilateral, masih menjadi tanda tanya. Namun satu hal jelas, dari panggung WEF 2026, sebuah format baru keterlibatan internasional di Palestina telah resmi diumumkan, dengan Indonesia sebagai salah satu aktor di dalamnya.

