Advertisement
GazanaPublika.com, Jakarta — Eskalasi unjuk rasa menuntut perbaikan biaya hidup yang dipelopori oleh para pelajar di Prancis kini semakin meluas ke berbagai negara di daratan Eropa. Dikutip dari detikNews, aksi protes serupa kini turut pecah di Italia, Belgia, Portugal, hingga Albania.
Di Prancis sendiri, gelombang aksi yang menentang kenaikan biaya hidup dan penurunan kualitas layanan publik sempat berujung pada aksi kekacauan dan penjarahan. Di Marseille, kelompok demonstran menerobos masuk ke balai kota dan mencoret-coret bangunan dengan grafiti anarkis. Sementara itu, gedung balai kota di Limoges dan kantor dinas pariwisata di Lyon dilaporkan dibakar oleh massa yang rusuh.
Advertisement
Aksi protes yang didorong oleh tingginya biaya hidup juga menjalar ke negara-negara tetangga. Di Italia, unjuk rasa yang berpusat di kota Milan dan Bologna diwarnai bentrokan antara demonstran dan kepolisian. Petugas terpaksa melepaskan tembakan gas air mata serta menggunakan meriam air untuk membubarkan massa yang melempari batu dan melakukan penjarahan. Sebanyak 28 demonstran dilaporkan ditangkap di sejumlah kota seperti Milan, Bologna, Brescia, Bergamo, dan Turin.
Perdana Menteri (PM) Italia, Giorgia Meloni, secara tegas mengecam tindakan kekerasan yang mewarnai aksi unjuk rasa di negaranya.
“Berunjuk rasa adalah hak. Mengubah kota-kota kita menjadi medan pertempuran bukanlah sebuah hak,” tegas Giorgia Meloni.
Gelombang protes serupa turut memanas di Belgia. Ratusan demonstran yang didominasi kaum muda turun ke jalan di kotaBrussels untuk menentang kenaikan biaya pendidikan serta reformasi yang dikhawatirkan membebani akses pendidikan tinggi. Polisi juga dikerahkan menggunakan gas air mata dan meriam air setelah beberapa pengunjuk rasa menggulingkan sebuah mobil di lokasi kejadian.
Sementara itu, puluhan ribu warga di Lisbon, Portugal, turun ke jalan memprotes krisis biaya perumahan dan tingginya biaya hidup akibat lonjakan harga rumah yang meningkat dua kali lipat sejak 2017. Adapun aksi protes di Albania dipicu oleh tuntutan terhadap dugaan korupsi pemerintah, minimnya lapangan kerja, serta standar pendidikan yang buruk hingga mendesak pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama.
Advertisement
