Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Makna Ganda di Balik Ritual Injak Kepala Kerbau Jokowi: Apresiasi Budaya sekaligus Isyarat Politik ke PDIP

Makna Ganda di Balik Ritual Injak Kepala Kerbau Jokowi: Apresiasi Budaya sekaligus Isyarat Politik ke PDIP

Berita Utama Rabu, 1 Juli 2026 1:20 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

GazanaPublika.com,  Jakarta — Prosesi adat yang dijalani oleh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), di Lampung baru-baru ini memicu beragam analisis. Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro, menilai bahwa ritual menginjak kepala kerbau yang dilakukan Jokowi memiliki dua makna, baik secara denotatif (budaya) maupun konotatif (politik) yang mengarah pada PDI Perjuangan (PDIP).

Penghargaan Budaya vs. Simbolisme Politik

Secara denotatif, Agung menjelaskan bahwa ritual tersebut merupakan bentuk apresiasi tertinggi Jokowi terhadap kekayaan budaya Nusantara, khususnya adat Lampung, serta sebagai wujud rasa hormat atas gelar yang diterimanya.

Namun di sisi lain, secara konotatif, ritual ini sulit dipisahkan dari dinamika politik, mengingat kerbau memiliki kedekatan asosiasi dengan lambang kepala banteng milik PDIP—partai yang membesarkan nama Jokowi.

BACA JUGA:  Satgas PKH Setor Rp10,2 Triliun dan 2,3 Juta Hektare Lahan ke Negara

“Susah untuk tidak melepaskannya. Karena Pak Jokowi ketika membuat agenda memberikan publik, berdampak luas,” dikutip dari pernyataan Agung Baskoro di media CNN Indonesia pada Senin (29/6/2026).

Ia bahkan menambahkan bahwa momen ini bisa ditafsirkan sebagai bentuk tantangan terbuka. Ada kemungkinan Jokowi memiliki keyakinan politik untuk menghadapi dan mengalahkan dominasi PDIP pada Pemilu 2029 mendatang, khususnya di wilayah Lampung.

Kronologi dan Penjelasan Pihak Terkait

Peristiwa tersebut terjadi saat Jokowi menerima gelar adat “Baginda Pemuka Bangsa” di Kedatun Keagungan, Kota Bandar Lampung, pada Sabtu (27/6/2026). Dalam prosesi tersebut, Jokowi yang mengenakan pakaian adat tampak duduk dan menginjak kepala kerbau yang telah disediakan di atas karpet merah.

BACA JUGA:  Redakan Ketegangan Global, AS dan Iran Resmi Teken MOU Damai: Ini 14 Poin Lengkapnya

Menanggapi tafsir politik yang berkembang, beberapa pihak memberikan klarifikasi:

Bestari Barus (Ketua DPP PSI): Menegaskan bahwa ritual tersebut murni bagian dari prosesi adat dan bukan atas permintaan atau skenario dari Jokowi. “Ritual itu bukan dibuat Pak Jokowi. Pak Jokowi hanya sebagai orang yang diberi gelar tersebut,” dikutip dari penjelasan Bestari Barus di media CNN Indonesia pada Senin (29/6/2026).

Mawardi Rahma Harirama (Tokoh Adat Lampung): Menjelaskan bahwa prosesi pemberian gelar adat (muakhi) ini merupakan tradisi turun-temurun yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Ritual ini adalah cerminan dari piil pesenggiri (falsafah budaya Lampung) yang mengedepankan nemui nyimah atau semangat silaturahmi.

Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Nasional

Komnas Perempuan Terbitkan Klarifikasi Tertulis Meluruskan Polemik Kasus Kekejaman YTR di Bandung

Berita Utama

Puluhan Ribu Personel Polri Terima Kenaikan Pangkat Mulai dari Bintara hingga Perwira Tinggi

Berita Utama

Pemerintah Resmi Luncurkan Logo HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Usung Tema Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur

Nasional

TTKKBI Lantik Pengurus Ranting Desa Jeruk Tipis, Tegaskan Komitmen Wadah Murni Budaya Non-Politik

BERITA TERBARU

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Komnas Perempuan Terbitkan Klarifikasi Tertulis Meluruskan Polemik Kasus Kekejaman YTR di Bandung

Puluhan Ribu Personel Polri Terima Kenaikan Pangkat Mulai dari Bintara hingga Perwira Tinggi

85 Personel Polres Lebak Naik Pangkat, Kapolres Minta Tingkatkan Profesionalisme

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Andai Pengelolaan MBG Swakelola Kantin Sekolah, Bagaimana?

Diplomasi Sepak Bola Iran di Tengah Ketegangan Politik Iran–AS

Budiman Sudjatmiko dan Penanggulangan Kemiskinan (Refleksi Defisit Kesadaran)

RAGAM

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Narasi Tandingan: Apakah Bintang Sebagaimana Matahari?

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini
© 2026 Gazana Publika | Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.