GazanaPublika.com – Israel telah menyatakan kesiapan untuk membalas serangan rudal dan pesawat tak berawak (drone) dari Iran, yang meningkatkan ketegangan di kawasan tersebut. Meskipun belum jelas langkah konkret apa yang akan diambil, kekhawatiran timbul bahwa situasi ini dapat memicu perang regional skala penuh.

Amerika Serikat (AS) menekankan pentingnya hati-hati dalam tanggapan Israel terhadap serangan tersebut. Presiden Joe Biden telah menegaskan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa AS tidak akan terlibat atau mendukung serangan langsung Israel terhadap Iran.

Sementara kabinet perang Netanyahu memanggil untuk respons cepat, para ahli memperingatkan agar Israel tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan. Jonathan Lord, mantan pejabat pertahanan AS dan sekarang direktur program keamanan Timur Tengah di Center for a New American Security (CNAS), menggambarkan situasi ini sebagai permainan catur yang rumit.

“Israel mungkin perlu merespons, tetapi tidak ada dorongan untuk merespons dengan cepat. Mereka tidak harus terburu-buru,” kata Lord.

Analisis terkait tanggapan Israel terhadap Iran, seperti yang dikutip dari Foreign Policy, menyoroti kompleksitas dinamika regional yang semakin meningkatkan risiko perang di Timur Tengah.

Berikut analisis terkait tanggapan Israel terhadap Iran, seperti dikutip dari Foreign Policy pada Selasa (16/4/2024), dikutip dari CNBCIndonesia.com.

Pilihan 1: Israel Akan Serang Program Nuklir Iran

Sejak AS menarik diri dari perjanjian nuklir hampir enam tahun lalu, program nuklir Iran telah mengalami peningkatan. Meskipun belum jelas apakah Iran telah memulai produksi rudal berkemampuan nuklir kembali, pejabat tinggi AS tahun lalu menyatakan bahwa jika Iran memutuskan untuk membuat senjata nuklir, Teheran mungkin dapat meluncurkannya dalam beberapa bulan.

Fasilitas nuklir Iran menjadi sasaran menarik bagi Israel, meskipun hal ini berada dalam spektrum eskalasi yang tinggi. Menurut Michael Mulroy, mantan pejabat pertahanan AS, tindakan respons Israel terhadap Iran bisa memiliki dampak yang sama pentingnya dengan menyerang fasilitas senjata nuklir atau basis industri pertahanan Iran.

Meskipun salah satu fasilitas nuklir terbesar Iran, Natanz, terletak di sisi gunung di pegunungan Zagros dengan kedalaman yang sulit ditembus bahkan oleh bom bunker terbesar AS, serangan langsung terhadap program nuklir Iran mungkin mengakibatkan berakhirnya koalisi ad hoc negara-negara Arab yang mendukung upaya pertahanan rudal Israel melawan Iran. Ini juga dapat memicu keterlibatan proksi Iran, seperti Hizbullah di Lebanon, dalam konfrontasi langsung yang lebih intens dengan Israel.

AS telah memberi isyarat bahwa mereka tidak akan mendukung serangan langsung terhadap Iran, sehingga Israel harus berhati-hati agar tidak melampaui batas yang mungkin membuat marah pelindung senjata utamanya, terutama dalam konteks tahun pemilihan Biden.

Pilihan 2: Israel Menargetkan Komandan, Militer Iran di Dalam dan di Luar Iran

Israel bisa menyerang sasaran di Iran yang tidak terkait langsung dengan program nuklir negara itu. Contohnya, mereka bisa menargetkan pemimpin militer berpengaruh seperti Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh, yang memimpin Pasukan Udara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang bertanggung jawab atas serangan drone dan rudal baru-baru ini. Israel juga mungkin akan menyerang situs militer, gudang senjata, atau bahkan markas besar IRGC. Meskipun Israel mungkin lebih memilih merespons langsung di Iran, AS kemungkinan besar akan mencoba mencegah tindakan tersebut untuk mengendalikan eskalasi. Sebagai alternatif, Israel bisa meningkatkan kampanye pembunuhan terhadap komandan IRGC yang berada di luar Iran, seperti di Irak dan Suriah. Namun, ada risiko operasional dalam menargetkan pemimpin seperti Hajizadeh atau fasilitas IRGC. Ini mungkin perlu dilakukan pada malam hari, terutama setelah serangan akhir pekan ini, di mana banyak pemimpin militer Iran mungkin bersembunyi.

Pilihan 3: Israel Akan Serang Proksi Iran atau Luncurkan Serangan Siber terhadap Iran

Jika pemimpin Israel khawatir tentang meningkatnya ketegangan dengan Iran, mereka mungkin akan memilih tindakan yang lebih sederhana: menyerang proksi Iran di Timur Tengah atau melancarkan serangan siber terhadap Iran untuk menegaskan posisi mereka sebagai pemain utama di kawasan ini.

Tindakan terbaru di kawasan ini, di mana hampir tidak ada drone atau rudal Iran yang berhasil mencapai Israel selama akhir pekan, dapat memberikan pukulan lain terhadap kredibilitas internasional Teheran.

“Jika Anda harus bertindak, pastikan langkah tersebut dirancang untuk meningkatkan keunggulan teknologi Anda atas Iran. Pilihlah langkah yang memalukan bagi mereka,” kata Frank McKenzie, pensiunan jenderal Marinir AS yang memimpin Komando Pusat AS dari tahun 2019 hingga 2022.

Hizbullah merupakan kelompok proksi terdekat dan paling penting bagi Iran di kawasan tersebut. Meskipun Israel telah melakukan serangan balasan terhadap kelompok militan di Lebanon selama enam bulan terakhir, Israel mungkin akan memilih untuk melancarkan kampanye militer yang jauh lebih intensif terhadap Hizbullah.

Tetapi yang demikiam itu akan membawa risiko tersendiri bagi Israel. Sejak serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, Hizbullah berusaha menghindari perang besar-besaran dengan Israel.

Apbila Hizbullah menentapkanuntuk terlibat dalam perang habis-habisan, kelompok ini pasti akan menderita kerugian besar, namun Israel juga akan menderita kerugian besar. (Sumber: cnbcindonesia.com)

Redaksi

Exit mobile version