Advertisement
Jakarta, GazanaPublika.com – “Tak terdengar kritik dan koreksi atas itu (red, sebelumnya). Menjadi wajar jika kemudian ada sebagian publik yang menilai bahwa kritik ini selain sebagai tanda hubungan PDIP selaku partai penguasa dengan penguasa sudah berada pada titik terendah.”
Kalimat itu dilontarkan Kamhar Lakumani, politisi Demokrat. Kamhar Lakumani, yang juga Bappilu DPP Partai Demokrat memandang kekhawatiran Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri terkait keadaan negara saat ini bisa dipahami.
Advertisement
Diketahui sebelumnya, Megawati menyoroti keadaan Indonesia yang dipandangnya, penguasa mulai menekan rakyat. Soal ini diungkapkannya dalam pertemuan relawan Ganjar-Mahfud awal pekan ini.
“Kekhawatiran dan kritik yang disampaikan Ibu Megawati sebagai seorang negarawan dan pencinta demokrasi merupakan ekspresi yang bisa dipahami. Tentunya Ibu Megawati memiliki pemikiran yang mendalam dan pertimbangan yang matang atas apa yang disampaikannya,” kata Kamhar, Rabu (29/11/2023).
Kamhar melanjutkan, publik tentu berharap kritik yang dipresentasikan sebagai kritik atas kekuasaan dapat menghindari penyakit kekuasaan.
“Termasuk karakter kekuasaan yang terus berusaha melanggengkan kekuasaan dengan segala cara, dengan menunggangi, dan merekayasa demokrasi,” ujar Kamhar.
Menurutnya, banyak sekali peristiwa politik yang mencederai demokrasi dan memiliki relasi yang erat dengan kepentingan kelanggengan kekuasaan dan pengabaian atas aspirasi rakyat
Menurut Kamhar, <span;>kenapa kritik tajam tersebut baru disampaikan sekarang. <span;>Padahal menurutnya banyak sekali peristiwa politik yang mencederai demokrasi. Serta memiliki relasi yang erat dengan kepentingan kelanggengan kekuasaan dan pengabaian atas aspirasi rakyat.
“Tak terdengar kritik dan koreksi atas itu. Menjadi wajar jika kemudian ada sebagian publik yang menilai bahwa kritik ini selain sebagai tanda hubungan PDIP selaku partai penguasa dengan penguasa sudah berada pada titik terendah,” kata Kamhar.
Kamhar menjelaskan, kecemasan partai penguasa kehilangan akses dan keberlanjutan pada kekuasaan semakin menguat, apalagi saat ini telah masuk masa kampanye.
“Terlepas dari polemik perbedaan pandangan di publik tersebut, kami menilai kritik seperti ini tetap relevan dan penting untuk dipresentasikan. Agar senantiasa ada wake up call untuk terbentuk dan terjaganya kontrol demokrasi, apalagi di masa kampanye seperti sekarang,” katanya.
Dikeketahui belum lama ini, Megawati Soekarnoputri menilai bahwa ada keadaan dimana penguasa mulai menekan rakyat.
“Kamu (penguasa) musti liat perundangan bolehkah kamu menekan rakyat mu, boleh kah kamu memberikan apapun juga kepada rakyat mu tanpa melalui perundangan yang ada di RI ini?” disampaikan Megawati pada acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) relawan Ganjar-Mahfud seluruh Pulau Jawa di Hall B Jiexpo Kemayoran, Jakarta Pusat pada Senin (27/11/2023).
Megawati mengungkapkan kejengkelan yang dirasakannya atas kondisi kekeluargaan yang belakangan memang menjadi polemik dalam pilpres kali ini.
“Lalu keluarganya itu sama sih? Engga deh, sorry deh. Emang keluarganya polisi juga engga lah, makan baso juga, Takut atau tidak?” tanya Megawati kepada pada sukarelawan
“Tidak,” jawab relawan.
“Yes gitu dong. Aih mustinya ibu nggak boleh ngomong gitu, tapi ibu jengkel,” tegas Megawati.
Megawati, Presiden ke-5 Republik Indonesia ini, pernah merasakan betul kondisi perpolitikan di masa orde baru. Ia juga menyinggung bahwa pemerintahan atau penguasa saat ini merupakan cerminan di masa tersebut.
“Republik ini penuh dengan pengorbanan tahu tidak? Kenapa sekarang kalian yang baru berkuasa itu mau bertindak seperti zaman orde baru?” Kata Megawati.
“Benar tidak? merdeka, merdeka merdeka, menang kita Ganjar-Mahfud satuu putaran,” tegas Megawati yang diikuti teriakan ‘lawan’ dari para relawan yang hadir.
Sementara, Presiden Joko Widodo (Jokowi) enggan memberikan komentar atas sentilan Megawati tersebut.
“Saya tidak ingin memberi tanggapan,” kata Jokowi usai acara Gerakan Tanam Pohon Bersama di Kawasan Industri Pulo Gadung, Jakarta Timur pada Rabu (29/11/2023).(Sumber: TribunNews.com- penulis: Rahmat Fajar Nugraha<span;>)
Advertisement
Advertisement
