Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Kamhar Lakumani, Politisi Partai Demokrat: PDIP Selaku Partai Penguasa Sudah Berada di Titik Terendah

Kamhar Lakumani, Politisi Partai Demokrat: PDIP Selaku Partai Penguasa Sudah Berada di Titik Terendah

Berita Utama Rabu, 29 November 2023 15:33 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
default-no-image
Ilustrasi Berita (GazanaPublika)

Advertisement

Jakarta, GazanaPublika.com – “Tak terdengar kritik dan koreksi atas itu (red, sebelumnya). Menjadi wajar jika kemudian ada sebagian publik yang menilai bahwa kritik ini selain sebagai tanda hubungan PDIP selaku partai penguasa dengan penguasa sudah berada pada titik terendah.”

Kalimat itu dilontarkan Kamhar Lakumani, politisi Demokrat. Kamhar Lakumani, yang juga Bappilu DPP Partai Demokrat memandang kekhawatiran Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri terkait keadaan negara saat ini bisa dipahami.

Advertisement

Diketahui sebelumnya, Megawati menyoroti keadaan Indonesia yang dipandangnya, penguasa mulai menekan rakyat. Soal ini diungkapkannya dalam pertemuan relawan Ganjar-Mahfud awal pekan ini.

“Kekhawatiran dan kritik yang disampaikan Ibu Megawati sebagai seorang negarawan dan pencinta demokrasi merupakan ekspresi yang bisa dipahami. Tentunya Ibu Megawati memiliki pemikiran yang mendalam dan pertimbangan yang matang atas apa yang disampaikannya,” kata Kamhar, Rabu (29/11/2023).

Kamhar melanjutkan, publik tentu berharap kritik yang dipresentasikan sebagai kritik atas kekuasaan dapat menghindari penyakit kekuasaan.

“Termasuk karakter kekuasaan yang terus berusaha melanggengkan kekuasaan dengan segala cara, dengan menunggangi, dan merekayasa demokrasi,” ujar Kamhar.

Menurutnya, banyak sekali peristiwa politik yang mencederai demokrasi dan memiliki relasi yang erat dengan kepentingan kelanggengan kekuasaan dan pengabaian atas aspirasi rakyat

BACA JUGA:  Buka Rakernis Korlantas 2026, Wakapolri Tekankan Smart Policing dan Pelayanan Humanis

Menurut Kamhar, <span;>kenapa kritik tajam tersebut baru disampaikan sekarang. <span;>Padahal menurutnya banyak sekali peristiwa politik yang mencederai demokrasi. Serta memiliki relasi yang erat dengan kepentingan kelanggengan kekuasaan dan pengabaian atas aspirasi rakyat.

“Tak terdengar kritik dan koreksi atas itu. Menjadi wajar jika kemudian ada sebagian publik yang menilai bahwa kritik ini selain sebagai tanda hubungan PDIP selaku partai penguasa dengan penguasa sudah berada pada titik terendah,” kata Kamhar.

Kamhar menjelaskan, kecemasan partai penguasa kehilangan akses dan keberlanjutan pada kekuasaan semakin menguat, apalagi saat ini telah masuk masa kampanye.

“Terlepas dari polemik perbedaan pandangan di publik tersebut, kami menilai kritik seperti ini tetap relevan dan penting untuk dipresentasikan. Agar senantiasa ada wake up call untuk terbentuk dan terjaganya kontrol demokrasi, apalagi di masa kampanye seperti sekarang,” katanya.

Dikeketahui belum lama ini, Megawati Soekarnoputri menilai bahwa ada keadaan dimana penguasa mulai menekan rakyat.

“Kamu (penguasa) musti liat perundangan bolehkah kamu menekan rakyat mu, boleh kah kamu memberikan apapun juga kepada rakyat mu tanpa melalui perundangan yang ada di RI ini?” disampaikan Megawati pada acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) relawan Ganjar-Mahfud seluruh Pulau Jawa di Hall B Jiexpo Kemayoran, Jakarta Pusat pada Senin (27/11/2023).

BACA JUGA:  Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Ditetapkan, Henriana Hatra: Langkah Maju Pemenuhan Hak Konstitusional

Megawati mengungkapkan kejengkelan yang dirasakannya atas kondisi kekeluargaan yang belakangan memang menjadi polemik dalam pilpres kali ini.

“Lalu keluarganya itu sama sih? Engga deh, sorry deh. Emang keluarganya polisi juga engga lah, makan baso juga, Takut atau tidak?” tanya Megawati kepada pada sukarelawan

“Tidak,” jawab relawan.

“Yes gitu dong. Aih mustinya ibu nggak boleh ngomong gitu, tapi ibu jengkel,” tegas Megawati.

Megawati, Presiden ke-5 Republik Indonesia ini, pernah merasakan betul kondisi perpolitikan di masa orde baru. Ia juga menyinggung bahwa pemerintahan atau penguasa saat ini merupakan cerminan di masa tersebut.

“Republik ini penuh dengan pengorbanan tahu tidak? Kenapa sekarang kalian yang baru berkuasa itu mau bertindak seperti zaman orde baru?” Kata Megawati.

“Benar tidak? merdeka, merdeka merdeka, menang kita Ganjar-Mahfud satuu putaran,” tegas Megawati yang diikuti teriakan ‘lawan’ dari para relawan yang hadir.

Sementara, Presiden Joko Widodo (Jokowi) enggan memberikan komentar atas sentilan Megawati tersebut.

“Saya tidak ingin memberi tanggapan,” kata Jokowi usai acara Gerakan Tanam Pohon Bersama di Kawasan Industri Pulo Gadung, Jakarta Timur pada Rabu (29/11/2023).(Sumber: TribunNews.com- penulis: Rahmat Fajar Nugraha<span;>)

Advertisement

Demontrasi PDIP Pemilu
Gazana Publika

Redaksi

Advertisement

BERITA LAINNYA

Nasional

Prabowo Terima Kunjungan Presiden Timor Leste, Puluhan Peraih Nobel Ikut ke Istana

Berita Utama

Tol Dalam Kota Kembali Ditutup, Aksi Massa Picu Kepadatan di Pejompongan-Slipi

Nasional

Prabowo Sungkem kepada Pengasuh Ponpes Al-Falah Ploso di Muktamar NU ke-35

Berita Utama

Aktivis AMPB Kecewa Puan Maharani Tak Temui Massa Aksi Secara Langsung

BERITA TERBARU

Lemkapi Berikan Penghargaan Kepada Dirreskrimsus Polda Banten Atas Dedikasi dan Komitmen Berantas Kejahatan Khusus

Prabowo Terima Kunjungan Presiden Timor Leste, Puluhan Peraih Nobel Ikut ke Istana

Tol Dalam Kota Kembali Ditutup, Aksi Massa Picu Kepadatan di Pejompongan-Slipi

Polda Banten Imbau Orang Tua Awasi Anak agar Tak Terjebak Kericuhan Saat Penyampaian Aspirasi

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.