GazanaPublika.com, Jakarta – Aksi teror terhadap kantor redaksi Tempo yang terjadi sepekan lalu terus memantik reaksi berlapis. Setelah lima hari dianggap lamban merespons, Presiden Prabowo Subianto akhirnya mengecam keras ancaman terhadap kebebasan pers dalam kunjungan kerjanya di Surabaya, Selasa (25/3/2025) siang.

“Pemerintah tidak akan mentolerir segala bentuk intimidasi terhadap pers. Saya telah memerintahkan Polri untuk mengusut tuntas kasus ini,” tegas Prabowo dengan wajah serius, disambut sorak kamera para wartawan.

Pernyataan ini menjadi penanda balik setelah sebelumnya pejabat Istana justru memicu kontroversi. Hasan Nasbi, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, pada Sabtu (22/3) lalu dengan santai menyebut paket kepala babi yang diterima Tempo “bisa dimasak saja”, sambil menyitir candaan jurnalis Francisca Christy di media sosial.

Di markas Polda Metro Jaya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memaparkan perkembangan terbaru penyidikan. “Kami telah mengidentifikasi pelaku dari kelompok tertentu. Pelaku menggunakan jasa kurir fiktif dan kendaraan tanpa plat,” ujarnya dalam jumpa pers yang dihadiri puluhan awak media.

Sementara itu, di kantor Tempo, suasana masih tegang. Pemimpin Redaksi Wahyu Dhyatmika menunjukkan dokumen investigasi proyek infrastruktur senilai Rp17 triliun yang diduga menjadi pemicu ancaman. “Ini upaya sistematis untuk menghentikan kerja jurnalistik kami,” katanya sambil menunjuk temuan mark-up di lima paket pekerjaan.

Data Aliansi Jurnalis Independen (AJI) memperkuat kekhawatiran tersebut. Sepanjang 2025, tercatat 15 kasus ancaman terhadap media, dengan 60% terjadi setelah pemberitaan kritis terhadap pemerintah. Angka ini meningkat dibanding periode sama tahun sebelumnya.

Di dunia maya, tagar #JagaPers bertengger di puncak trending Twitter dengan 72% tweet menyuarakan dukungan. Sementara di jalanan, aksi solidaritas yang digelar 18 organisasi sipil sejak kemarin masih berlanjut.

“Kasus ini akan menjadi penanda apakah pemerintahan baru serius membela demokrasi atau membiarkan teror menjadi budaya baru,” tandas Direktur Lingkar Madani Ray Rangkuti, mengingatkan pada kasus pembunuhan wartawan Udin yang hingga kini belum tuntas.

Hingga berita ini diturunkan, Polri menjanjikan penyelesaian kasus dalam dua pekan. Sementara di Gedung DPR, rencana rapat dengar pendapat mulai disusun. Di tengah situasi yang masih berkembang, satu hal yang pasti: ujian hakiki bagi kebebasan pers Indonesia sedang berlangsung.

Tanggapan istana sebelumnya:

Tanggapan kontroversial datang dari Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, mengenai kasus teror terhadap Tempo. Dalam pernyataannya di Istana Kepresidenan Jakarta pada Sabtu (22/3/2025), Nasbi menyatakan bahwa insiden ini merupakan persoalan antara Tempo dengan pihak ketiga.

“Pemerintah tidak memiliki kaitan dengan kasus ini. Kami menghimbau agar persoalan ini tidak diekspos berlebihan, mengingat Pemerintahan Prabowo Subianto senantiasa menjunjung tinggi kebebasan pers,” ujar Nasbi dengan nada diplomatis, dilansir dari Tempo.co.

Namun, komentarnya mengenai Francisca Christy Rosana, wartawan politik Tempo yang menjadi korban teror, menuai kritik. Nasbi merespons candaan Francisca di media sosial dengan mengatakan, “Melihat unggahan di media sosial, Francisca justru terlihat santai. Bahkan berkelakar minta dikirim daging babi. Barangkali paket tersebut bisa diolah saja,” ucapnya sambil tersenyum.

Pernyataan ini segera memantik reaksi keras dari berbagai kalangan yang menilai sikap pejabat Istana tersebut tidak pantas dan dianggap meremehkan ancaman terhadap dunia jurnalistik.

Redaksi

Exit mobile version