GazanaPublika.com, Padang – Suasana belajar yang penuh ketenangan di sebuah rumah doa milik umat Kristen di Kelurahan Padang Sarai, Kecamatan Koto Tangah, mendadak berubah menjadi kepanikan dan ketakutan. Minggu sore yang seharusnya damai itu malah diwarnai kekerasan saat sekelompok massa menyerbu rumah doa, merusak fasilitas, dan bahkan melukai dua anak-anak yang sedang mengikuti pelajaran agama.

Rumah doa tersebut dibangun oleh jemaat GKSI Anugerah Padang sebagai tempat anak-anak Kristen mendapatkan pendidikan agama yang tidak mereka peroleh di sekolah negeri. Namun, tempat suci itu justru menjadi sasaran amarah sekelompok orang.

“Mereka datang membawa kayu, batu, pisau… lalu meneriakkan ‘bubarkan!’” kata Pendeta F. Dachi dengan nada masih terkejut, dikutip dari antaranews.com.

Menurut kesaksian Dachi, massa merusak jendela, melempar kursi, dan memporak-porandakan isi rumah doa. Puluhan anak-anak yang berada di dalam bangunan itu lari menyelamatkan diri dalam kondisi panik. Dua di antaranya, berusia 9 dan 11 tahun, tidak sempat melarikan diri dan menjadi korban pemukulan.

“Satu anak mengalami cedera kaki, yang satu lagi bahunya dipukul dengan kayu,” ujar Dachi. Keduanya telah dibawa ke rumah sakit.

Insiden bermula sekitar pukul 16.00 WIB, saat Pendeta Dachi tengah duduk di teras bersama beberapa jemaat. Ketika RT dan Lurah setempat datang dan mengajaknya berbicara, ia tak menduga bahwa sesaat kemudian kerumunan massa akan menyerang.

Seorang jemaat lainnya, Baja Baruhu (57), mengatakan baru saja duduk ketika beberapa pria mulai melempari rumah doa. “Saya hanya bisa lari. Mereka menghancurkan semuanya,” ujarnya lirih.

Wakapolda Sumbar, Brigjen Pol Solihin, menyatakan bahwa sembilan orang telah diamankan berdasarkan video yang beredar di media sosial. Namun, pihak kepolisian belum mengakui adanya laporan resmi terkait anak-anak yang menjadi korban kekerasan.

“Kami baru menerima laporan soal kerusakan fisik bangunan. Soal korban anak-anak, kami belum dapat laporan resmi,” katanya.

Meski demikian, polisi berjanji akan menyelidiki lebih lanjut dan membuka kemungkinan adanya penambahan tersangka.

Wali Kota Padang, Fadly Amran, menyampaikan permintaan maaf kepada umat Kristen atas insiden ini. Ia menyebut insiden ini sebagai bentuk miskomunikasi antara warga dan pengurus lingkungan.

“Ini kejadian yang sangat kami sesalkan. Kita hidup dalam keragaman dan damai. Pemerintah akan mencatat kejadian ini sebagai pelajaran penting ke depannya,” ujarnya.

Namun, tanggapan Wali Kota menuai sorotan karena dianggap meremehkan insiden kekerasan tersebut dengan menyebutnya sekadar miskomunikasi.

Redaksi

Exit mobile version