Advertisement
GazanaPublika.com, Cianjur — Komunitas Student Care Priangan Barat berkolaborasi dengan Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran menggelar Diklat Jurnalistik dan Digitalisasi Informasi pada Minggu, (9/8/2026). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Diskusi Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran, Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat ini diikuti oleh 30 peserta yang terdiri dari perwakilan pelajar, mahasiswa asal Cianjur, Bogor, dan Sukabumi, serta warga zilenial padepokan setempat.
Sejumlah instansi pendidikan yang mengirimkan perwakilannya antara lain Universitas Suryakancana, Universitas Al-Azhar, Poltek Perikanan KKP Bogor, STAI Al-Jami, STISIP Guna Nusantara, Universitas Terbuka Bogor, hingga SMA Pasundan Dua Cianjur.
Advertisement
Acara ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni jurnalis MetroTV dalam program Melawan Lupa, Hendi Jo, serta advisor kreatif konten berbasis kebudayaan, Tedi Subarkah.
Dalam pemaparannya, Hendi Jo menekankan pentingnya etika dan pemahaman sejarah dalam dunia jurnalistik.
“Jurnalistik adalah aktivitas intelektual yang mengedepankan kode etik, keberimbangan informasi menjadi salah satu hal pentingnya. Selain itu, kita juga harus memahami sejarah secara utuh, sehingga proses penyampaian informasi khususnya terkait kebijakan dan politik, memiliki kualitas yang baik,” ujar Hendi Jo.
Ia juga menambahkan bahwa para pembuat konten di media sosial saat ini merupakan bagian dari jurnalisme warga yang tetap terikat pada aturan etika.
“Konten kreator yang memberikan informasi kepada publik adalah bagian dari jurnalisme warga, yang tentunya harus memperhatikan unsur-unsur kode etik. Jadi informasi publik itu berbeda dengan opini,” tegas Hendi Jo.
Sementara itu, Tedi Subarkah soroti aspek kebebasan berekspresi di ruang digital yang tetap harus dibentengi oleh norma hukum serta asas kemanfaatan.
“Setiap orang berhak mengekspresikan dan mengekspose keunggulan potensi diri maupun lingkungannya, namun harus didasari untuk tujuan yang baik, dan tidak keluar dari norma-norma atau tata laku hukum yang berlaku,” kata Tedi.
Tedi juga mengajak para peserta untuk lebih kritis dalam menyaring berbagai jenis informasi yang beredar di masyarakat.
“Selain budaya narasi seimbang, serta aspek manfaat dari konten juga penting untuk diperhatikan. Jadi kita harus mengenali dan memisahkan mana berita, opini, dan propaganda, sehingga kualitas informasi betul-betul dapat dipertanggungjawabkan,” tambahnya.
Selain sesi pemaparan materi, diklat diisi dengan diskusi interaktif seputar penulisan berita, artikel, hingga simulasi pemuatan konten kreatif dengan praktik presenter yang diwakili oleh peserta bernama Fitri NF, Hanny, dan MZ Aditya.
Perwakilan Student Care Priangan Barat Suryakancana, Moch Ade, mengapresiasi tinggi pelaksanaan kegiatan ini sebagai langkah edukatif di tengah derasnya arus informasi.
“Kegiatan ini sangat positif dan memberikan dampak pengetahuan untuk kami, sebab di era distrupsi informasi, DFK seakan menjadi tren untuk menaikkan engagement akun medsos. Kegiatan ini perlu kami duplikasi untuk diadakan di daerah lainnya, baik di Jawa Barat maupun tingkat nasional, sehingga generasi kami paham betul bagaimana informasi itu disajikan serta metodologi kritik yang konstruktif,” ungkap Moch Ade.
Advertisement
