Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Gubernur Papua Barat Daya: ‘Orang Papua Seperti Ngontrak di Tanah Sendiri’

Gubernur Papua Barat Daya: ‘Orang Papua Seperti Ngontrak di Tanah Sendiri’

Daerah Selasa, 8 September 2026 19:18 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

GazanaPublika.com,   Sorong — Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu kembali menyampaikan kritik keras terhadap kebijakan pemerintah pusat terkait penguasaan tanah dan sumber daya alam di Papua. Ia menilai masyarakat adat Papua masih menghadapi ketimpangan dalam mengakses dan mengelola tanah leluhur mereka sendiri.

Pernyataan tersebut disampaikan Elisa Kambu dalam Papeda Summit pada Rabu, 2 September 2026. Ia menyoroti kondisi ketika sebagian besar kawasan hutan dan tanah di Papua justru dikuasai pihak dari luar daerah, termasuk perusahaan besar dan kelompok yang memiliki kekuatan ekonomi maupun politik.

Advertisement

Menurut Elisa, kondisi tersebut membuat masyarakat asli Papua berada dalam posisi yang memprihatinkan. Mereka justru seperti menjadi pendatang atau penyewa di atas tanah yang secara turun-temurun merupakan wilayah leluhur mereka.

“Orang Papua ini seperti ngontrak di tanahnya sendiri,” kata Elisa dalam kesempatan tersebut.

BACA JUGA:  Usung Semangat Transformasi, Sanggar Klasick Tegal Alur Gelar Acara 'Temu Kangen' di RPTRA Dahlia

Ia juga menyinggung pengelolaan sektor pertambangan dan sumber daya alam lainnya. Menurutnya, berbagai proyek dengan nilai ekonomi besar belum sepenuhnya memberikan posisi yang adil bagi masyarakat adat.

Elisa menilai persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan investasi, tetapi juga menyangkut kepastian hukum atas tanah adat. Karena itu, ia meminta pemerintah memperkuat kehadiran negara melalui perlindungan hukum dan mempercepat proses legalisasi tanah masyarakat adat.

“Kalau negara hadir memberikan perlindungan hukum, itu harus cepat. Legalitas tanah masyarakat adat juga harus dipercepat,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali dapat mengancam keberlangsungan hutan Papua. Menurutnya, kekayaan alam Papua semestinya dikelola dengan mempertimbangkan kepentingan masyarakat asli dan kelestarian lingkungan.

Dalam kesempatan tersebut, Elisa turut menyoroti pola hubungan antara pemerintah pusat dan daerah. Ia berharap komunikasi antara kedua pihak dilakukan secara terbuka dan jujur sehingga persoalan Papua tidak harus menunggu munculnya gejolak di tengah masyarakat untuk mendapatkan perhatian.

BACA JUGA:  PSI Garut Gelar Cukur Rambut Gratis, Kolaborasi dengan Seniman Pangkas ASGAR Indonesia

Elisa kemudian mengungkapkan pengalaman masa lalu ketika berbagai kebijakan khusus untuk Papua muncul setelah terjadi kerusuhan.

“Papua ini sangat ‘sexy’. Dulu Bantuan Khusus bisa turun akibat masyarakat Papua bakar Jayapura, bakar Manokwari, dan bakar Sorong,” katanya.

Ia melanjutkan, “Kalau kita bicara baik-baik itu tidak didengar. Kalau mau diperhatikan harus buat kerusuhan dulu.”

Pernyataan tersebut menjadi kritik tajam Elisa terhadap pola respons pemerintah dalam menangani persoalan Papua. Ia menegaskan bahwa masyarakat seharusnya tidak perlu melakukan tindakan destruktif agar suara dan kebutuhan mereka mendapatkan perhatian pemerintah. Dikutip dari indosatunews.com.

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

BERITA LAINNYA

Daerah

23 Siswa MAN 2 Rembang Terserang Diare Massal, Penyebab Masih Diselidiki

Daerah

Bau Busuk Tercium di Stasiun LRT Pancoran, Polisi Selidiki Dugaan Penemuan Jenazah

Daerah

Gempa M 4,3 Guncang Cianjur, Getarannya Terasa hingga Jakarta

Daerah

Stasiun Karet Resmi Ditutup, Penumpang KRL Mulai Dialihkan ke BNI City

BERITA TERBARU

AMBAS Tolak Rencana Jokowi ke Banten Selatan

Kejari Kabupaten Bandung Nyatakan Berkas Kasus Dugaan Kekerasan Seksual Taufik Hidayat Lengkap

Polda Banten dan Basarnas Lakukan Pencarian Rombongan Jurnalis yang Hilang Kontak di Selat Sunda

23 Siswa MAN 2 Rembang Terserang Diare Massal, Penyebab Masih Diselidiki

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.