“Apabila pikiran dan hati belum menyatu maka belum sejahtera” – AOA
GazanaPublika.com,Oksimoron (atau oxymoron dalam bahasa Inggris) adalah gaya bahasa (majas) yang menggabungkan dua kata atau ungkapan yang saling bertentangan atau berlawanan makna. Meski bertentangan, kedua kata ini digabungkan untuk menciptakan efek tertentu—biasanya untuk mempertegas makna, menunjukkan ironi, atau menggambarkan sesuatu yang kompleks dan paradoksal.
Namun, dalam penggunaan yang lebih luas, oksimoron tidak hanya hadir dalam bentuk ungkapan linguistik. Ia juga dapat mencerminkan realitas batin manusia, yakni pertentangan yang terjadi di dalam diri seseorang. Hal ini biasa dialami oleh mereka yang hidup dalam dua dunia pemahaman: pemikiran dan perasaan. Misalnya, seseorang yang sedang mendalami ilmu tasawuf secara intelektual mungkin telah menerima bahwa tasawuf adalah jalan kebajikan menuju Allah. Dalam kerangka tauhid, ia memahami bahwa jalan menuju Allah tidaklah mudah dan pasti dipenuhi ujian yang harus dilalui untuk mencapai kedekatan spiritual.
Namun dalam kenyataannya, konsep hanya tinggal sebagai konsep; pemahaman hanya menjadi pemahaman. Ketika ujian benar-benar datang—berupa penderitaan, kehilangan, atau rasa sakit—hati belum tentu selaras dengan pengetahuan yang sudah diyakini oleh pikiran. Ada benturan batin: keyakinan intelektual tidak serta-merta menjelma menjadi penerimaan emosional.
Apa yang terjadi? Hampir semua manusia, kecuali mereka yang istimewa, mengalami ketegangan batin seperti ini. Yakni pertentangan antara keyakinan yang sudah tertanam dalam pikiran dengan hati yang belum siap menerimanya secara utuh. Ketika penderitaan datang, seseorang merasa tidak sanggup menerimanya, meskipun ia tahu bahwa dalam konsep Ketuhanan, penderitaan itu adalah ujian dari Allah.
Dalam bahasa Sunda, terdapat satu kata yang menggambarkan situasi ini dengan sangat tepat, yaitu ‘ongkoh’. Ongkoh berarti ‘padahal’; sebuah paradoks kehidupan: ongkoh sudah memahami agama, ongkoh sudah tahu bahwa ujian datang dari Allah, tapi tetap saja tidak bisa menerima kenyataan itu sepenuh hati.
Maka, penting untuk memahami bahwa selama pertentangan antara pikiran dan hati masih berlangsung dalam diri seseorang, ia belum dapat disebut sebagai orang yang sejahtera.
Sejahtera, dalam pengertian yang mendalam, adalah keadaan jiwa yang menerima segala sesuatu dengan ikhlas—baik dalam keadaan senang maupun susah. Dalam konteks keagamaan, orang yang sejahtera adalah orang yang menerima takdir Allah sepenuhnya. Substansi dari kesejahteraan adalah kebahagiaan batin yang tidak tergantung pada kondisi luar. Ia adalah ketenangan, ketika pikiran sejalan dengan hati, dan hati sejalan dengan pikiran. Apa yang diputuskan oleh hati disetujui oleh pikiran, dan apa yang dipikirkan disahkan oleh hati.
Pada tingkatan spiritual yang tinggi, keadaan seperti ini bisa mengarah pada kondisi mulāmatiyah, yakni keadaan jiwa orang-orang yang terhina di hadapan Allah karena menyadari adanya niat-niat tersembunyi yang tidak murni. Mereka mengalami konflik batin karena menyimpan tujuan ganda, meskipun secara lahir tampak berjalan di jalan spiritual.

