Advertisement
“Syariat, perlakuan akhirat kepada Allah. Tasawuf, perlakuan di dunia kepada Allah” – AOA
GazanaPublika.com – Syariat berisi hukum-hukum Allah. Praktiknya di dunia tampak dalam bentuk ibadah seperti salat, puasa, zakat, dan haji. Namun di balik praktik-praktik tersebut, tujuan utamanya adalah untuk kehidupan akhirat. Oleh karena itu, Allah memberikan ganjaran berupa pahala bagi siapa pun yang melaksanakannya. Syariat berkaitan dengan perilaku lahiriah (zahir), sebab fiqih harus terlihat secara nyata. Akan tetapi, tujuannya tetap untuk Allah dan balasannya diberikan di akhirat. Inilah maksud dari pernyataan bahwa syariat adalah perilaku lahiriah di dunia untuk akhirat dan kepada Allah.
Advertisement
Sementara itu, tasawuf merupakan fase lanjutan dari Islam, yaitu ihsan. Praktiknya merupakan perilaku batiniah di dunia yang ditujukan kepada Allah, seperti menyayangi dan menghargai diri sendiri, berbuat baik kepada sesama, serta menjalankan akhlak dan adab dalam kehidupan sehari-hari. Semua itu merupakan bentuk hubungan vertikal dan horizontal yang dilandasi keikhlasan kepada Allah. Hikmah dari tasawuf umumnya akan terasa di dunia, seperti terciptanya ketenangan batin, kejernihan pikiran, dan keseimbangan jiwa.
Puncak dari tasawuf adalah tercapainya kebahagiaan batin, yang memberikan manfaat bagi kesehatan jiwa, menciptakan ketenangan hati, dan menumbuhkan optimisme dalam menjalani hidup, termasuk dalam menerima segala takdir dari Allah dengan lapang dada. Oleh karena itu, perilaku tasawuf tidak bisa dilepaskan dari sikap syukur, sabar, dan istiqamah (keteguhan niat atau himmah).
Advertisement
Advertisement
