Advertisement
“Jangan memandang yang membuat harapan dan tahan atas tertundanya permintaan”
-AOA-
GazanaPublika.com – Harapan biasanya muncul dari pandangan kita terhadap orang lain ataupun meletakkan diri kita dalam perspektif orang lain sehingga membuat kita sempit dalam menjalani hidup dan kehidupan, harapan hanya akan membuat kita tersiksa dan tidak akan pernah menemukan hasil didalamnya.
Advertisement
Maka dimanakah seharusnya kita meletakan harapan…? Dalam Al-Qur’an harapan disebut dengan lafal rajaa yang berarti mengharapkan. Lafal rajaa disebutkan sebanyak 26 kali dengan berbagai macam derivasi kata.
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.
Orang mukmin dengan segala proses penghambaan yang telah dilakukan mengharap setiap amalan yang mereka lakukan diibaratkan sebagai suatu perdagangan yang tidak akan pernah rugi.
Dalam ayat tersebut dapat kita ketahui bahwa harapan dalam Islam tidak serta merta hanya sebuah harapan kosong tanpa adanya suatu usaha atau amal. Harapan dalam Islam lebih menekankan kepada usaha, di mana setelah seseorang melakukan seluruh amaliyah baru ia berharap. Berharap bukanlah kepada makhluk, melainkan berharap kepada Sang Pencipta.
Kemudian selanjutnya bersabar, kita selama ini seringkali mengartikan sabar itu adalah tahan dalam cobaan dan ujian menerima segala apapun yang terjadi namun sesungguhnya makna sabar yang sebenarnya adalah “bersungguh-sungguh” bukan pasrah menerima, apabila kita mendapatkan suatu hal yang tidak kita inginkan maka jangan diam dan tidak berbuat apa-apa melainkan kita harus bersungguh-sungguh dalam mencari solusi dan berhijrah dari suatu tempat atau keadaan lama ke tempat maupun keadaan baru yang lebih baik.
Salah satu motivasi dari Allah SWT untuk kita tercantum dalam Surat Ar Ra’d ayat 11, yaitu
لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚوَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ – ١١
Artinya: “Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.
Itu adalah firman Allah maka tak ada keraguan atas hal itu. Apabila Kita sedang dilanda kesulitan, Allah akan selalu setia untuk mendengarkan. Apabila Kita sedang dilanda kesukaran Allah akan mudahkan kesukaran itu untuk dilewati.
Namun, ingatlah bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Wallahu a’lam bish-shawab.
Editor :
Qiunhuaqi
Advertisement
Advertisement
