Advertisement
“Tuhan jangan dipahami dengan akal dan dunia jangan dipahami dengan perasaan” – AOA
GazanaPublika.com – Ada saja orang yang memahami Tuhan dengan akalnya dan karenanya yang dikembangkan adalah pemahaman tauhid aqliyah. Apakah mungkin Allah yang Maha Ghaib dan Latif bisa dipahami oleh akal? Kekuatan akal hanya sebatas memahami penciptaannya dan dengan ciptaan yang ada tersebut adalah sebagai jejak adanya Allah. Dengan begitu akal bisa menyimpulkan, adanya makhluk tanda adanya Allah.
Advertisement
Hanya sebatas itu akal memahami Tuhan karena akal sifatnya hanya mengenal yang zahir dan tidak mengenal yang batin. Batin itu tidak bisa diselidiki oleh akal.
Sejenak kita rehat dulu berbicara soal ketuhanan tetapi kita tengok pada realitas batin lainnya seperti kuda lumping yang makan beling, atau praktisi debus yang sedang menunjukkan kebolehannya, badan kebal, tahan golok. Apakah bisa kita menarik kesimpulan logis atas fakta-fakta tersebut Apa sebabnya dan mengapa bisa terjadi? Jawabannya tidak bisa dipikirkan dan jawabannya ya seperti itu adanya dan faktanya tidak bisa ditarik satu kausalitas(sebab-akibat)
Perantaraan antara batin dan gaib adalah hidupnya seorang manusia. Manusia tercipta di dalam rahim dan terbentuk tanpa adanya cetakan seperti kue pancong. Tetapi dari janin itu setahap demi setahap terbentuk menjadi segumpal darah menjadi segumpal daging hingga terbentuk organnya dan anggota tubuhnya. Lalu Manusia dikatakan terbentuk dari sel satu yang membentuk jadi dua sel dan seterusnya. Lalu perkembangan sel itu dikarenakan asupan protein, tetapi apa yang menyebabkan sel tersebut hidup dan tumbuh jika bukan karena ruh. Ruh bukan perkara zahir tetapi perkara batin yang tidak bisa dibuktikan secara logika sebab akibat.
Apalagi kita memahami Tuhan dengan logika itu sangat mustahil. Akal cuma bisa meraba-raba, tidak bisa membuktikan secara konkrit. Bahkan aslinya, akal itu agnostik (anti batin) karena tidak mengenal sesuatu yang dianggap tidak nyata di luar rabaan panca indra, dan di luar sesuatu yang tidak dikenal di dunia. Batu, gunung, laut, dan matahari masih dikenal di dunia. Tetapi dimanakah Tuhan dapat dilihat oleh akal. Oleh karenanya ilmu Tauhid menjembatani hal tersebut, dengan mengatakan Tuhan dapat kenali dari tanda-tandanya yakni ciptaannya dan hanya sebatas itu. Akal tidak menyentuh substansi Tuhan yang sebenarnya. Maka para ahli tasawuf menekankan pemahaman ketuhanan bukan dengan akal tetap dengan qalbu yang menuntun seseorang untuk melakukan musyahadah dan mufasyafah. Proses ini bukanlah proses akal tetapi proses batiniah yang dikelola melalui pengolahan hati.
Yang kedua adalah janganlah di dalam masalah dunia menggunakan perasaan. Misalnya ketika berdagang atau berbisnis menggunakan perasaan sehingga yang muncul rasa kasihan kepada orang, lalu kapan mau untung. Urusan dunia itu urusan logika atau akal baik urusan bisnis berdagang maupun menciptakan sesuatu seperti teknologi. Mustahil teknologi dengan menggunakan perasaan? Ruang perasaan itu ditujukan kepada Tuhan dan ketika kepada makhluk, biasanya ditujukan kepada kekasih, anak, orang tuanya dan lain sebagainya.
Dalam kenyataannya pada kehidupan sehari-hari banyak yang menerapkan kedua hal ini yakni akal dan perasaan itu terbalik di mana ketika manusia dihadapan kepada Tuhan, ia menggunakan aspek akalnya dan ketika manusia berhadapan dengan dunia usahanya atau aspek duniawi dia menggunakan perasaannya. Munculnya keajaiban seperti maunah, tingkat bawah kegaiban yang dimiliki orang-orang mukmin, berangkat dari keyakinan hati, bukan akal. Akhirnya Apa yang terjadi, kepada Tuhan orang tersebut tidak akan mencapai-Nyq dan kepada dunia, harapan dan usahanya tidak terwujud.
Wallahu alam bishawab
Advertisement
Advertisement
