Advertisement
“Kalau nanti kita pernah saling bisa berbagi bahagia setidaknya aku tetap ingin mendengar kau selalu bahagia”
-AOA-
GazanaPublika.com -Jika ingin hidup bahagia, maka usahakanlah membuat orang lain bahagia. Karena kebahagiaan Anda bergantung pada kebahagiaan orang lain dan begitu juga sebaliknya. Orang yang paling bersyukur di sisi Allah adalah orang yang mau dan mampu berbagi kebahagiaan dan kesejahteraan kepada orang lain.
Advertisement
Berbagi kebahagiaan merupakan konsistensi keimanan seseorang dalam dimensi kemanusiaan. Itulah yang harus digalakkan begitupula dalam usaha mewujudkan Indonesia dalam rangka menuju masyarakat adil makmur yang diselimuti keberkahan. Sebaliknya, bukan saling menjatuhkan satu dengan yang lain, yang menjadikan situasi makin tidak menentu ujung dan pangkalnya. Tolong-menolong dan gotong royong penting digalakkan dalam praktik kehidupan nyata menuju tatanan masyarakat yang lebih kondusif, terutama dalam situasi saat ini.
Sejalan dengan pesan suci Baginda Nabi Muhammad SAW, ”Manusia yang paling dicintai Allah ialah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Amal yang paling dicintai Allah ialah memasukkan rasa bahagia ke dalam hati orang muslim, atau melepaskan kesulitan, atau membayar utangnya, atau mengenyangkan yang lapar.” (HR Thabrani)
Hadits tersebut makna dan cakupannya sangat dalam yang penekanannya adalah pada aspek sosial kemasyarakatan. Para pembawa Islam di Indonesia sangat serius dalam menggerakkan masyarakat untuk punya kepedulian kepada sesama. Mengecilkan kadar kerakusan dan membuang keangkuhan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dijiwai semangat berbagi kebahagiaan membuat masyarakat benar-benar mampu tampil hidup saling membantu dalam praktik kehidupan nyata.
Jika kita menghendaki perubahan dalam hidup dan mendambakan hidup bahagia, yang pertama harus kita lakukan ialah mengubah pikiran. Pikiran melahirkan kenyataan. Kenyataan itu akan meluas dan menyebar. Apa yang Anda pikirkan akan menjadi kenyataan dalam diri Anda pada waktu yang sama. Maka belajarlah berpikir positif.
Begitu juga Alquran dimulai dengan nama Allah, bismillah, dan diakhiri dengan nama manusia, An-Nas. Salat dimulai dengan takbiratulihram, penghormatan kepada Allah, dan diakhiri dengan salam. Puasa dimulai dengan menahan makan dan diakhiri dengan memberikan makanan kepada orang lain. Bukankah itu semua menunjukkan bahwa amal seorang muslim selalu dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan tasyakur? Dimulai dengan mengagungkan Allah dan diakhiri dengan mendatangkan manfaat bagi sesama manusia?
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah dan Ahmad Rasulullah SAW bersabda ”Tidak menambah usia kecuali amal kebaikan dan tidak menangkal takdir kecuali doa. Seseorang terhalang dari rezeki lantaran dosa yang dikerjakannya.”
Dalam riwayat lain Rasulullah SAW, bersabda ”Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (Muttafaq ’alaih).
Editor:
Qiunhuaqi
Advertisement
Advertisement
