Janganlah engkau mencari karamah tetapi carilah istiqamah” – AOA –

GazanaPublika.com – Karamah adalah bentuk keajaiban. Sebagai umat Islam, kita memang diperkenalkan dengan apa yang namanya karamah. Karamah adalah suatu keajaiban dan satu kekuatan yang dimiliki oleh seorang waliyullah. Karamah adalah turunan dari mukjizat, hanya saja mukjizat itu milik para nabi.

Di dalam Al Quran banyak sekali ayat-ayat yang mengungkapkan keberadaan para nabi dengan mukjizatnya. Beberapa nabi yang masyur dengan mukjizatnya adalah seperti Nabi Musa AS yang mampu membelah lautan dan Nabi Isa AS, ia mampu menghidupkan orang mati. Jadi berbicara soal karamah yang substansinya juga adalah mukjizat bukan sesuatu yang asing di dalam agama Islam bahkan muslim yang logis pun mempercayai keberadaan karamah karena memang sudah bersifat ajaran.

Dengan cerita-cerita metafisika seperti itu banyak orang Islam yang menjadi tertarik dengan karamah dan berusaha meraih karamah tersebut. Apakah salah? tidak juga. Ingin mendapat karamah atau bahkan mempelajari karamah-walaupun keramah itu sebetulnya tidak bisa dipelajari-namun substansinya itu bagian dari wujud keimanan muslim. Oleh karenanya fenomena pada orang-orang pencari karamah itu tidak bisa dipersalahkan keberadaannya. Sekalipun upaya meraih karamah itu dengan motif pamernya misalnya. Apalagi di zaman yang beriklim sekuler dan liberal seperti di zaman ini, justru sangat bagus ketika generasi sekarang diperkenalkan soal cerita keberadaan karamah.

Namun apabila direnungkan dan dipertimbangkan lebih mendalam daripada mencari karamah lebih baik beristiqamah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mengapa? Karena karamah itu tidak bisa dipelajari tetapi seperti hadiah dari Allah SWT atau bentuk pertolongan dari Allah SWT yang tidak diminta-minta tetapi terjadi ketika seseorang waliyullah terancam.

Justru keramah bukan satu tujuan namun yang menjadi tujuan itu sebetulnya adalah menjadi waliyullah. Berhimmah (bercita-cita) menjadi waliyullah, boleh karena substansi dari Wali Allah adalah orang yang bertakwa kepada Allah. Untuk menjadi takwa kepada Allah SWT ialah dengan beristiqamah. Keberadaan waliyullah tidak identik juga dengan kepemilikan karamah. Bagi seorang waliyullah karamah adalah ‘aib’ ketika karamah itu dikeluarkan sebab itu berarti seorang waliyullah telah membuka baju humulnya (rahasia) dimana seharusnya ia merahasiakan keberadaan kewaliannya.

Jadi seorang waliyullah pun sebetulnya tidak menginginkan mengeluarkan karamahnya namun mengapa orang biasa justru mengejar karamah. Orang yang mengejar karamah bisa ditafsirkan bahwa orang tersebut sebetulnya ingin mendemonstrasikan sesuatu pada orang lain tentang keajaiban Tuhan. Tentu saja niatnya sudah tidak baik.

Maka yang perlu dilakukan secara tepat adalah melakukan proses istiqamah untuk menjadi orang yang bertakwa. Istiqomah itu adalah sebuah perilaku fokus dan serius untuk meraih sesuatu tanpa pernah terputus. Dan sebetulnya Istiqamah itu bukan hanya dalam upaya meraih wilayah ukhrawi tetapi juga kepada wilayah duniawi. Hanya saja karena tulisan ini konteksnya sedang membahas istiqamah di wilayah batiniah maka perlulah untuk menjelaskan seberapa penting melakukan istiqamah agar disambut oleh Allah dengan ridhanya.

Sebagaimana yang telah diungkapkan bahwa makna Istiqomah itu adalah ‘serius’. Seriuslah kepada Allah agar membawa hasil dan hasilnya bukan soal karamah tetapi terkait kedekatan kita dengan Allah.

Redaksi

Exit mobile version