Advertisement
“Kadang lebih baik diam daripada menjelaskan perasan karena akan menyakitkan ketika mereka mendengar tetapi tidak mengerti” -AOA-
GazanaPublika.com -Suatu tindakan yang berlandaskan perasaan biasanya akan berdampak tidak baik. Begitu pula dengan ucapan yang terbawa perasaan selalu menimbulkan permasalahan di belakangnya. Seorang bijak berkata bahwa dalam tubuh manusia ada 2 jalan masuk dan jalan keluar, yaitu hati dan akal yang mana dari keduanya memiliki dampak yang berbeda. Kalau suatu perkara masuk melalui hati maka dia akan keluar dari akal. Begitu juga sebaliknya apabila ia masuk melalui akal maka jalan keluarnya adalah melalui hati.
Advertisement
Orang tua seringkali menasihati anaknya dengan ungkapan “Jangan dimasukan ke hati atau jangan terbawa perasaan” itu bermakna bahwa segala sesuatu yang dimasukan ke hati akan berakibat tidak baik karena akan diolah dan dikeluarkan melalui akal (ngakali). Sebagai contoh kita melihat lawan jenis yang menarik perhatian itu, pintu masuknya tentu saja hati atau perasaan kemudian diolah akal dengan bagaimana mencari tahu siapa dirinya dan seterusnya. Walaupun tidak semua berujung keburukan tetapi suatu hal yang “ngakali” selalu berakibat kurang baik. Sebaliknya apabila suatu perkara masuk melalui akal maka dia keluar dari hati yang bersifat memancar seperti seorang yang belajar di sekolah, jalan masuknya pasti dari akal bukan dari hati cirinya adalah diawali dengan penolakan atau pertentangan terlebih dahulu sampai akhirnya diterima dan berbuah menjadi ilmu pengetahuan (memancar).
Sebagai seorang Muslim tidak boleh gampang baperan (emosi dan terbawa perasaan). “Seorang Muslim harus rendah hati dan tenang dalam segala situasi.
Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda :
“Jauhilah persangkaan buruk, karena persangkaan buruk itu adalah sedusta-dusta ucapan ” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhory dan Muslim).
Pernyataan lain dari seorang bijak “ucapan itu mendekati fitnah dan tauladan akan mendatangkan kecintaan”. Ungkapan itu bermakna bahwa ucapan seseorang sejatinya hanya orang yang mengucapkanlah yang paling tahu maksudnya sementara orang lain hanya menduga duga. Karena untuk pasti mengetahui maksud dari ucapan seseorang apalagi kalau orang tersebut sudah meninggal dunia maka akan sangat kompleks sekali pendekatannya. Sementara mengikuti perilaku baik dari seseorang akan mendapatkan cinta dan kebaikan.
Apalagi dalam urusan cinta mencintai, maka akan lebih baik diungkapkan dalan bentuk tindakan dan perhatian daripada ucapan semata.
Wallahu a’lam bishawab
Editor:
Qiunhuaqi
Advertisement
Advertisement
