Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Yang Terpuji adalah Memberi Kepada yang Dibenci

Yang Terpuji adalah Memberi Kepada yang Dibenci

Genta Qalbu Minggu, 25 Agustus 2024 14:25 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram

Advertisement

“Jangan memberi dengan berharap pujian tetapi sangat terpuji dengan beratnya memberi kepada orang yang selalu membenci kepadanya.” -AOA-

GazanaPublika.com -Ketahuilah, saudaraku, bahwa haus pujian itu akan menjerumuskan diri sendiri. Dengan merasa terpuji, kita tidak menyadari bahwa diri kita sebetulnya berada dalam bahaya, baik dari orang-orang yang ingin memanfaatkan kita maupun dari mereka yang ingin menjatuhkan kita. Oleh karena itu, hilangkanlah rasa ingin dipuji di dalam diri sendiri. Sesungguhnya, rasa ingin dipuji itu adalah bagian kecil dari kesombongan yang terpelihara di dalam diri secara terus-menerus. Orang yang tidak sombong tentu tidak akan haus akan pujian, sebaliknya, orang-orang yang memiliki bibit kesombongan itulah yang sebenarnya haus akan pujian.

Advertisement

Pujian itu akan menjerumuskan diri sendiri, oleh karena itu ketika dipuji, sadarilah bahwa itu adalah suatu bahaya yang datang kepada diri kita. Maka, netralkanlah hati kita di saat itu. Ketahuilah, ketika ada orang yang memuji diri kita, sesungguhnya orang itu sedang ingin memanfaatkan sesuatu yang kita miliki. Namun, ketika kita tidak memiliki apa-apa, mereka pun dengan sendirinya akan meninggalkan kita. Yang paling berbahaya adalah ketika orang yang memuji itu justru memiliki niat untuk menjatuhkan diri kita di hadapan orang lain dengan cara yang halus dan perlahan, sampai akhirnya kita terjebak dalam kehinaan bahkan menyebabkan kejatuhan martabat yang sangat berbahaya.

Orang yang ingin dipuji itu biasanya memiliki sifat perhitungan, dengan kata lain, jika tidak dipuji, dia tidak akan memberi sesuatu kepada orang lain. Dan ketika dipuji, maka dia akan berani berkorban untuk orang itu. Tentu saja, hal seperti ini adalah suatu kebodohan yang, sadar atau tidak sadar, telah kita pelihara di dalam diri kita. Pada intinya, orang yang suka dipuji itu memiliki sifat ingin mendapatkan timbal balik, walaupun timbal baliknya hanya sekadar pujian. Orang-orang yang memanfaatkan orang yang merasa terpuji menjadikannya sebagai mangsa, siap dikorbankan kapan saja untuk kepentingan mereka. Orang yang merasa terpuji itu mudah diperalat oleh orang lain, walaupun imbalannya sebenarnya sangat kecil, hanya berupa pujian.

Oleh karena itu, untuk mengikis hal seperti itu, ketika kita ingin bersedekah atau memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada orang lain, tidak perlu meminta imbalan apa pun dari orang lain. Jika mereka tetap memuji, anggaplah itu sebagai ujian dan sesuatu yang berlalu begitu saja tanpa meninggalkan jejak pada diri kita. Abaikanlah pujian tersebut, karena hal itu tidak bermanfaat sedikitpun bagi kita.

Kemudian, netralkan hati kita bahwa kita berbuat dan bersedekah kepada orang lain hanya untuk Allah. Dengan berprinsip bahwa segala perbuatan hanya untuk Allah dan bahwa kita tidak merasa memiliki apa pun, karena semua terjadi atas izin Allah, prinsip ini akan bisa menghilangkan rasa ingin dipuji tersebut.

Sesungguhnya, perbuatan yang terpuji itu bukanlah merasa terpuji, melainkan sesuatu yang paling berat di dalam diri kita adalah ketika di dalam hati kita ada kebencian terhadap seseorang, lalu kita tetap berusaha memberinya. Bahkan, boleh jadi orang yang kita beri tersebut adalah orang-orang yang membenci kita, namun jika hal tersebut terjadi, kita tetap memberinya dengan kasih sayang. (*)

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

Advertisement

BERITA LAINNYA

Genta Qalbu

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Genta Qalbu

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Genta Qalbu

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Genta Qalbu

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

BERITA TERBARU

Lemkapi Berikan Penghargaan Kepada Dirreskrimsus Polda Banten Atas Dedikasi dan Komitmen Berantas Kejahatan Khusus

Prabowo Terima Kunjungan Presiden Timor Leste, Puluhan Peraih Nobel Ikut ke Istana

Tol Dalam Kota Kembali Ditutup, Aksi Massa Picu Kepadatan di Pejompongan-Slipi

Polda Banten Imbau Orang Tua Awasi Anak agar Tak Terjebak Kericuhan Saat Penyampaian Aspirasi

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.