“Jangan memberi dengan berharap pujian tetapi sangat terpuji dengan beratnya memberi kepada orang yang selalu membenci kepadanya.” -AOA-
GazanaPublika.com -Ketahuilah, saudaraku, bahwa haus pujian itu akan menjerumuskan diri sendiri. Dengan merasa terpuji, kita tidak menyadari bahwa diri kita sebetulnya berada dalam bahaya, baik dari orang-orang yang ingin memanfaatkan kita maupun dari mereka yang ingin menjatuhkan kita. Oleh karena itu, hilangkanlah rasa ingin dipuji di dalam diri sendiri. Sesungguhnya, rasa ingin dipuji itu adalah bagian kecil dari kesombongan yang terpelihara di dalam diri secara terus-menerus. Orang yang tidak sombong tentu tidak akan haus akan pujian, sebaliknya, orang-orang yang memiliki bibit kesombongan itulah yang sebenarnya haus akan pujian.
Pujian itu akan menjerumuskan diri sendiri, oleh karena itu ketika dipuji, sadarilah bahwa itu adalah suatu bahaya yang datang kepada diri kita. Maka, netralkanlah hati kita di saat itu. Ketahuilah, ketika ada orang yang memuji diri kita, sesungguhnya orang itu sedang ingin memanfaatkan sesuatu yang kita miliki. Namun, ketika kita tidak memiliki apa-apa, mereka pun dengan sendirinya akan meninggalkan kita. Yang paling berbahaya adalah ketika orang yang memuji itu justru memiliki niat untuk menjatuhkan diri kita di hadapan orang lain dengan cara yang halus dan perlahan, sampai akhirnya kita terjebak dalam kehinaan bahkan menyebabkan kejatuhan martabat yang sangat berbahaya.
Orang yang ingin dipuji itu biasanya memiliki sifat perhitungan, dengan kata lain, jika tidak dipuji, dia tidak akan memberi sesuatu kepada orang lain. Dan ketika dipuji, maka dia akan berani berkorban untuk orang itu. Tentu saja, hal seperti ini adalah suatu kebodohan yang, sadar atau tidak sadar, telah kita pelihara di dalam diri kita. Pada intinya, orang yang suka dipuji itu memiliki sifat ingin mendapatkan timbal balik, walaupun timbal baliknya hanya sekadar pujian. Orang-orang yang memanfaatkan orang yang merasa terpuji menjadikannya sebagai mangsa, siap dikorbankan kapan saja untuk kepentingan mereka. Orang yang merasa terpuji itu mudah diperalat oleh orang lain, walaupun imbalannya sebenarnya sangat kecil, hanya berupa pujian.
Oleh karena itu, untuk mengikis hal seperti itu, ketika kita ingin bersedekah atau memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada orang lain, tidak perlu meminta imbalan apa pun dari orang lain. Jika mereka tetap memuji, anggaplah itu sebagai ujian dan sesuatu yang berlalu begitu saja tanpa meninggalkan jejak pada diri kita. Abaikanlah pujian tersebut, karena hal itu tidak bermanfaat sedikitpun bagi kita.
Kemudian, netralkan hati kita bahwa kita berbuat dan bersedekah kepada orang lain hanya untuk Allah. Dengan berprinsip bahwa segala perbuatan hanya untuk Allah dan bahwa kita tidak merasa memiliki apa pun, karena semua terjadi atas izin Allah, prinsip ini akan bisa menghilangkan rasa ingin dipuji tersebut.
Sesungguhnya, perbuatan yang terpuji itu bukanlah merasa terpuji, melainkan sesuatu yang paling berat di dalam diri kita adalah ketika di dalam hati kita ada kebencian terhadap seseorang, lalu kita tetap berusaha memberinya. Bahkan, boleh jadi orang yang kita beri tersebut adalah orang-orang yang membenci kita, namun jika hal tersebut terjadi, kita tetap memberinya dengan kasih sayang. (*)

