Advertisement
“Bukan kesuksesan yang menjadi tujuan, melainkan jadilah orang yang menilai” – AOA.
GazanaPublika.com – Sebagian besar orang beranggapan bahwa kesuksesan adalah segalanya, seringkali diukur hanya dari pencapaian materi. Pada zaman ini, banyak yang terjebak dalam pandangan hidup yang cenderung materialistis. Tujuan hidup mereka adalah mencapai popularitas dan prestasi agar dipandang hebat oleh orang lain.
Advertisement
Di satu sisi, kita bisa memaklumi pandangan tersebut, terutama dari orang-orang yang belum mendalami kebijaksanaan. Biarlah jika sebagian besar orang berpikir demikian, karena kita tidak diberi kewajiban untuk meluruskan semua pandangan hidup. Dalam tasawuf, yang terpenting adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri dan tidak terjebak dalam hal-hal yang sifatnya duniawi. Setiap orang memiliki kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya, dan kita tidak berhak mengintervensi pilihan hidup mereka. Kita tidak perlu terlalu memperhatikan atau menghakimi pandangan orang lain.
Seperti yang telah diuraikan dalam berbagai tulisan, yang terpenting adalah bagaimana seseorang memperbaiki dirinya sendiri. Dalam lingkup yang lebih luas, ini juga mencakup tanggung jawab terhadap keluarga, terutama istri dan anak, karena mereka berada dalam tanggung jawab kita.
Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surah At-Tahrim ayat 6 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu….”
Oleh karena itu, Firman Allah Swt. tersebut mengingatkan kita: “Bukan kesuksesan yang dituju, tetapi jadilah orang yang menilai.” Maka, nilailah diri sendiri dan jangan terlalu sibuk menilai orang lain. Jangan iri dengan pencapaian orang lain. Jika kita menginginkan kesuksesan, sadarlah bahwa kesuksesan bukan satu-satunya tujuan hidup. Yang lebih penting adalah melakukan introspeksi, memperbaiki diri, dan menjadi manusia yang bermanfaat, terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan ketuhanan.
Kesuksesan memang penting, tetapi jangan mengartikan kesuksesan hanya dari sudut pandang duniawi. Ketika seseorang berhasil menempatkan dirinya sebagai hamba Allah yang baik, menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan bahkan meningkatkan amal ibadah dalam ruang yang lebih luas, itulah yang sesungguhnya lebih utama.
Advertisement
Advertisement
