Advertisement
“Seorang pesimis akan ditemukan dengan kesempatan pada waktu yang sulit, sedangkan seorang optimis kesempatannya akan ditemukan dengan jalan orang yang bahagia.” – AOA
GazanaPublika.com – Percayakah Anda bahwa semangat itu mengandung energi, semacam magnet yang memiliki daya penarik terhadap kesempatan yang akan datang tanpa harus berharap? Orang yang memiliki semangat dalam jiwanya akan membuka jalan keberuntungan. Kadang, peluang datang tanpa disangka-sangka. Mungkin, ketika kesempatan dan keberuntungan datang, kita tidak tahu apa penyebabnya. Padahal, hal itu datang dari energi semangat.
Advertisement
Suatu saat, seseorang bersilaturahmi, tiba-tiba tanpa disangka dan tanpa niat sebelumnya, ada tawaran baik untuk bisnis. Itulah hikmah semangat, apalagi ditambah dengan silaturahmi.
Semangat juga membangun energi dalam hubungan Ketuhanan. Ciri semangat tidak hanya berlaku untuk urusan duniawi saja, tetapi juga untuk urusan akhirat. Shalat, puasa, dan ibadah lainnya membutuhkan semangat dalam jiwa. Jika hanya fokus pada urusan duniawi saja, orang tersebut tetap menyimpan kemalasan dalam dirinya. Semangat bersifat menyeluruh. Dengan semangat dalam urusan akhirat, kita akan dibantu oleh Allah dalam setiap kesulitan, sedangkan semangat itu sendiri sudah mengandung magnet keberuntungan dan kebahagiaan.
Semangat adalah unsur dasar dalam optimisme. Di dalam optimisme, terdapat keyakinan, sikap positif, dan tidak berprasangka negatif dalam memandang keadaan. Jangan mematahkan keadaan seolah-olah sesuatu hal tidak bisa diraih, betapapun sulitnya keadaan yang dihadapi. Yakinlah, yakinlah bahwa selalu ada jalan keluar. Jangan bilang tidak bisa sebelum dicoba dan diusahakan secara maksimal.
Ada seseorang yang pernah berkata secara hiperbolis, “Langit pun bisa dicat.” Itu hanya bentuk ungkapan semangat yang ada dalam dirinya.
Lalu, bagaimana jika kita pesimis? Seorang pesimis akan menemukan kesempatan dalam waktu yang sulit. Dengan kata lain, orang yang pesimis memiliki energi negatif, kesempatan tertutup, dan penyebab keterpurukan, semakin terpuruk dari keadaan sebelumnya. Tidak sulit untuk menstigma diri agar tetap optimis dan tidak berprasangka negatif dalam memandang keadaan yang belum terjadi. Hindari memvonis keadaan, karena itu sama saja dengan menutup kemungkinan baik yang seharusnya bakal datang.
Orang pesimis akan menganggap sesuatu yang seharusnya mudah menjadi sulit. Bahkan, tidak ada keadaan yang dipandang mudah karena jiwanya sudah sulit dan tidak mau meringankan diri. Dengan begitu, keadaan pun tidak pernah terasa ringan. Padahal, seandainya ia merelakan dan meringankan jiwanya, maka keadaan akan seimbang dan menjadi ringan. Yang sulit adalah menstimulasi jiwa, dan jawabannya ada pada diri sendiri, pada keinginannya.
Advertisement
Advertisement
