Advertisement
“Untuk melihat orang lain, gunakanlah pandangan hakikat. Untuk melihat diri sendiri, gunakanlah pandangan syariat” – AOA
GazanaPublika.com – Ketika seseorang menilai orang lain apalagi menghakiminya, lalu mengatakan, “Dia jelas salah!”. Atau seolah seseorang sedang menjadi ahli ramal yang mengatakan,” Menurut batin saya, dia jelas pencuri.” Dan berbagi sangkaan dan tuduhan yang keji diberikan kepada orang lain disaat dia tidak menyukai orang lain.
Advertisement
Hal ini juga kerap terjadi dalam suasana gibah yang dilakukan sekumpulan orang ketika mereka sedang membicarakan orang lain entah kawannya atau apa. Kalau sudah gibah maka sangat dekat dengan praktik menuduh dan memfitnah orang lain karena suasana seperti itu biasanya dimasuki hawa syaitan.
Membicarakan orang lain, bagi yang suka itu memang sangat menyenangkan apalagi kalau sampai mengeluarkan prasangka dan menuduhnya bahwa Si A atau si A begini dan begitu. Pada saat seperti itu bahkan ia lupa untuk menilai diri sendiri. Lebih banyaknya hal itu ditujukan untuk menilai orang lain. Ketika menilai itu seolah dirinyalah yang paling mengetahui sesuatu tersebut padahal ternyata baru sebatas prasangka saja dan itu pun barangkali hasil pengaruh dari rumors masyarakat. Bahwa apa yang dibicarakan yang panjang lebar tersebut hanya sebatas ‘katanya’.
Oleh karenanya ungkapan di atas sebetulnya hanya menegaskan bahwa ‘pandanglah diri sendiri itu dengan syariat’ yang berarti “Ukurlah dirimu apakah sudah sesuai dengan nilai-nilai Islam atau belum dan jangan mengukur orang lain kepada hal tersebut padahal kita belum mengetahuinya”. Ukurlah diri sendiri apakah sudah sesuai dengan nilai-nilai Islam yang ada di dalam fiqih malah mungkin kita sendiri yang masih jauh dari dari syariat. Lalu jauhkanlah menilai orang lain pada sesuatu yang belum pasti dan kita pun tidak mengetahui faktanya.
‘Pandanglah orang lain dengan hakikat’ maksudnya pandanglah orang lain secara positif sebab orang-orang yang memahami hakikat tidak akan memandang orang lain dengan su’udzan. Memandang orang lain dengan hakikat pun dapat dipahami pandanglah secara abstrak bahwa kita betul-betul tidak mengetahuinya perkara orang lain karena kesalahan-kesalahan itu masih ada di dalam ranah hakikat di mana hanya Allah dan orang-orang arifin yang mengetahuinya. Artinya jangan mudah menilai apalagi menghakimi orang lain, menganggap rendah, remeh, bodoh, bahkan sampai mencela.
Keberadaan orang lain harus dipandang abstrak, sekali pun tahu anggap saja tidak tahu, bahkan tahu kebenarannya pun harus disangkal oleh diri sendiri dengan kearifan. Misalkan, Anda mengetahui kawan Anda sering tidur. Dan mungkin Anda mengetahui sekali bahwa dia sering tidur. Lalu muncul ketidaksukaan Anda di dalam hati. Dengan kearifan, sangkallah itu dalam pikiran hati Anda dengan mengatakan, “Mungkin dia sedang letih atau sedang sakit.” Sangkalan ini untuk membangun mindset positif di dalam kepribadian diri sendiri. Sebab apabila positif hilang maka yang terbangun adalah prasangka buruk kepada orang lain. Sangat sulit membangun kebijaksanaan dalam diri sendiri karena banyak orang terperangkap di dalam prasangkanya untuk menilai orang lain secara negatif sehingga yang muncul adalah kebencian.
Kita boleh memberikan penilaian kepada orang di luar diri kita bahkan kita boleh menegurnya apabila posisi dan tugas kita berada di sana seperti halnya orang tua kepada anaknya atau guru kepada muridnya atau atasan kepada bawahannya, hakim atas terdakwa dan sebagainya. Namun yang lebih utama adalah mengukur diri sendiri dengan syariat.
Seandainya ada ahli hakikat sekalipun dan sudah tentu ahli hakikat tersebut mengetahui perkara-perkara batiniah dan perkara-perkara yang tidak diketahui oleh orang lain atas diri seseorang tetapi di dalam diri mereka ditanamkan rasa husnuzhan kepada orang lain sehingga mereka tidak mendahului Allah untuk menilai orang lain.
Tidak berguna sedikit pun menilai dengan prasangka buruk kepada orang lain, tidak ada faidahnya dan menilai diri sendiri apakah kita sudah sesuai dengan keiginan Allah SWT, tampaknya itu lebih bermanfaat.
Advertisement
Advertisement
