Advertisement
“Kekhawatiran adalah kebodohan fasik, sebab orang yang bodoh fasik akan mengejar supaya kita lupa” -AOA
GazanaPublika.com – Kebodohan fasik adalah kebodohan yang disertai kefasikan, yaitu kondisi di mana seseorang bukan hanya bodoh tetapi juga keluar dari nilai-nilai kebenaran. Hal ini sering terjadi ketika seseorang memelihara rasa khawatir dalam dirinya.
Advertisement
Kata “fasik” berasal dari bahasa Arab faasiq, yang secara harfiah berarti “keluar dari sesuatu”. Dalam buku Politik Hukum: Studi Perbandingan dalam Praktik Ketatanegaraan Islam dan Sistem Hukum Barat karya Abdul Manan, dijelaskan bahwa menurut Imam al-Jurjani, orang fasik adalah orang yang menyaksikan kebenaran tetapi tidak meyakini atau melaksanakannya.
Dengan kata lain, orang fasik adalah mereka yang memahami agama tetapi tidak mengamalkannya. Mereka meremehkan hukum agama, cenderung mencari dalih daripada berusaha untuk mempraktikkan nilai-nilai kebenaran.
Imam Al-Ghazali membagi kefasikan menjadi dua jenis, yaitu:
• Fasik kafir: Kefasikan yang menyebabkan seseorang keluar dari agamanya.
• Fasik fajir: Kefasikan yang tidak membuat seseorang keluar dari agama, tetapi tetap merupakan pelanggaran serius terhadap nilai-nilai agama.
Ciri-Ciri Orang Fasik
Orang fasik memiliki sejumlah karakteristik, di antaranya: Tidak peduli kepada Tuhan, berbuat durhaka dan melanggar janji, keluar dari jalan hidayah, rahmat, dan ampunan Allah, menghancurkan hal-hal yang seharusnya dipelihara, melakukan kerusakan di muka bumi dan mengubah hukum Allah yang jelas kebenarannya.
Namun, semua ciri ini bermuara pada satu hal: pelaku fasik adalah orang yang memahami hukum agama tetapi tidak mengamalkannya.
Bodoh Fasik dan Kekhawatiran
Bodoh fasik adalah kondisi fasik yang berangkat dari kebodohan. Namun, kebodohan di sini bukan berarti ketidaktahuan terhadap agama, melainkan kebodohan karena memelihara rasa khawatir berlebihan di dalam hati. Kekhawatiran ini merupakan bentuk bisikan setan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: “yuwaswisu fii sudurin-naas” (bisikan setan di dada manusia).
Salah satu bentuk kekhawatiran adalah rasa takut terhadap hari esok, misalnya khawatir tidak punya uang atau tidak bisa membayar hutang. Kekhawatiran ini muncul dari kurangnya keyakinan terhadap Allah. Padahal, Allah belum memutuskan takdir seseorang untuk hari esok. Sikap ini mencerminkan ketidakpercayaan kepada Allah dan seolah-olah seseorang telah memvonis dirinya sendiri tanpa dasar.
Orang yang khawatir sering berkata dalam hati, “Sepertinya besok saya tidak punya uang,” atau “Besok saya mungkin tidak bisa makan.” Kekhawatiran seperti ini adalah bentuk prasangka negatif terhadap Allah. Padahal, Allah Maha Penolong dan selalu memberikan jalan keluar dari setiap masalah.
Mengatasi Kekhawatiran
Untuk menghindari sikap fasik yang berangkat dari kebodohan ini, seseorang harus memperkuat keyakinannya kepada Allah. Kesadaran bahwa rezeki adalah bagian dari takdir Allah akan menumbuhkan rasa percaya diri dan ketenangan. Selain itu, penting untuk tetap berikhtiar dan tidak menyerah pada keadaan.
Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang berusaha. Meski ujian terasa berat, selalu ada celah yang Allah berikan sebagai jalan keluar. Yang dibutuhkan hanyalah keyakinan dan ketabahan dalam menghadapi ujian tersebut.
Advertisement
Advertisement
