Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Masuk
Login Gazana Publika
Facebook X (Twitter) Instagram
GazanaPublika.com
Facebook X (Twitter) Instagram TikTok YouTube
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Lainnya
    • Opini
    • Historika
    • Ragam
    • Spesial
    • Gaya Hidup
    • Ekonomi
    • Arban Ramizud Raray
    • Kriminalitas
    • Indeks Berita
GazanaPublika.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Banten
  • Internasional
  • Tasawuf Elegan
  • Genta Qalbu
  • Historika
  • Ragam
  • Spesial
  • Gaya Hidup
  • Opini
  • Indeks Berita
Beranda » Khawatir Sebagai Kefasikan

Khawatir Sebagai Kefasikan

Genta Qalbu Minggu, 24 November 2024 22:10 WIB
Facebook Twitter WhatsApp Tumblr Telegram
Genta qolbu mutiara AOA

Advertisement

“Kekhawatiran adalah kebodohan fasik, sebab orang yang bodoh fasik akan mengejar supaya kita lupa” -AOA

GazanaPublika.com – Kebodohan fasik adalah kebodohan yang disertai kefasikan, yaitu kondisi di mana seseorang bukan hanya bodoh tetapi juga keluar dari nilai-nilai kebenaran. Hal ini sering terjadi ketika seseorang memelihara rasa khawatir dalam dirinya.

Advertisement

Kata “fasik” berasal dari bahasa Arab faasiq, yang secara harfiah berarti “keluar dari sesuatu”. Dalam buku Politik Hukum: Studi Perbandingan dalam Praktik Ketatanegaraan Islam dan Sistem Hukum Barat karya Abdul Manan, dijelaskan bahwa menurut Imam al-Jurjani, orang fasik adalah orang yang menyaksikan kebenaran tetapi tidak meyakini atau melaksanakannya.

Dengan kata lain, orang fasik adalah mereka yang memahami agama tetapi tidak mengamalkannya. Mereka meremehkan hukum agama, cenderung mencari dalih daripada berusaha untuk mempraktikkan nilai-nilai kebenaran.

Imam Al-Ghazali membagi kefasikan menjadi dua jenis, yaitu:

• Fasik kafir: Kefasikan yang menyebabkan seseorang keluar dari agamanya.

• Fasik fajir: Kefasikan yang tidak membuat seseorang keluar dari agama, tetapi tetap merupakan pelanggaran serius terhadap nilai-nilai agama.

Ciri-Ciri Orang Fasik

Orang fasik memiliki sejumlah karakteristik, di antaranya: Tidak peduli kepada Tuhan, berbuat durhaka dan melanggar janji, keluar dari jalan hidayah, rahmat, dan ampunan Allah, menghancurkan hal-hal yang seharusnya dipelihara, melakukan kerusakan di muka bumi dan mengubah hukum Allah yang jelas kebenarannya.

Namun, semua ciri ini bermuara pada satu hal: pelaku fasik adalah orang yang memahami hukum agama tetapi tidak mengamalkannya.

Bodoh Fasik dan Kekhawatiran

Bodoh fasik adalah kondisi fasik yang berangkat dari kebodohan. Namun, kebodohan di sini bukan berarti ketidaktahuan terhadap agama, melainkan kebodohan karena memelihara rasa khawatir berlebihan di dalam hati. Kekhawatiran ini merupakan bentuk bisikan setan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: “yuwaswisu fii sudurin-naas” (bisikan setan di dada manusia).

Salah satu bentuk kekhawatiran adalah rasa takut terhadap hari esok, misalnya khawatir tidak punya uang atau tidak bisa membayar hutang. Kekhawatiran ini muncul dari kurangnya keyakinan terhadap Allah. Padahal, Allah belum memutuskan takdir seseorang untuk hari esok. Sikap ini mencerminkan ketidakpercayaan kepada Allah dan seolah-olah seseorang telah memvonis dirinya sendiri tanpa dasar.

Orang yang khawatir sering berkata dalam hati, “Sepertinya besok saya tidak punya uang,” atau “Besok saya mungkin tidak bisa makan.” Kekhawatiran seperti ini adalah bentuk prasangka negatif terhadap Allah. Padahal, Allah Maha Penolong dan selalu memberikan jalan keluar dari setiap masalah.

Mengatasi Kekhawatiran

Untuk menghindari sikap fasik yang berangkat dari kebodohan ini, seseorang harus memperkuat keyakinannya kepada Allah. Kesadaran bahwa rezeki adalah bagian dari takdir Allah akan menumbuhkan rasa percaya diri dan ketenangan. Selain itu, penting untuk tetap berikhtiar dan tidak menyerah pada keadaan.

Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang berusaha. Meski ujian terasa berat, selalu ada celah yang Allah berikan sebagai jalan keluar. Yang dibutuhkan hanyalah keyakinan dan ketabahan dalam menghadapi ujian tersebut.

Advertisement

Gazana Publika

Redaksi

Advertisement

BERITA LAINNYA

Genta Qalbu

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Genta Qalbu

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Genta Qalbu

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Genta Qalbu

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

BERITA TERBARU

Gelar Giat Cacahan Warga Banten, Forwatu Berkomitmen Menjaga Kondusivitas dan Tetap Kritis

Peduli Warga Terdampak Kekeringan, Polda Banten Distribusikan 6.500 Liter Air Bersih di Tigaraksa

TTKKBI Cilegon Open Fest 2026 Meriah, Puluhan Perguruan Tampilkan Seni Pencak Silat Tingkat Nasional

Lemkapi Berikan Penghargaan Kepada Dirreskrimsus Polda Banten Atas Dedikasi dan Komitmen Berantas Kejahatan Khusus

GENTA QOLBU

Hubungan Iman, Islam dan Ihsan

Sebuah Hikmah: Perlakuan Agama dan Adab

Terima Ketetapan Hari Ini dan Insya Allah untuk Esok

Iman Itu Telanjang, Bajunya Itu Takwa

TASAWUF ELEGAN

Syukur Sangat Berharga Bagi Sang Khalik, Sabar Sangat Bangga Bagi Sang Khalik

Tasawuf dan Ilmu Kebatinan

Sakralitas Maulid Nabi Muhammad SAW Diyakini Semua Umat di Nusantara

OPINI

Pendalaman Literasi Digital Student Care Wilayah Papua

OPM/KKB: Menjadikan Warga Sipil sebagai Objek Teror dan Brutal Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Wakil Kepala Desa, Perlukah?

RAGAM

Masih Ada Ikan Purba di Laut Indonesia

Struktur Hari dan Bulan Kalender Maya: Rahasia Siklus Angka 13, 20 Hari, dan 18 Bulan

Menyelami Konsep Dasar Kalender Maya

Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest YouTube
  • Nasional
  • Internasional
  • Daerah
  • Banten
  • Historika
  • Spesial
  • Ragam
  • Genta Qalbu
  • Tasawuf Elegan
  • Opini

| Redaksi | Kebijakan Privasi | Pedoman Media Siber | Disclaimer | Indeks |

© 2026 Gazana Publika - Medianya Aktifis Terpercaya

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.