Advertisement
“Tidak akan mengenal diri sendiri sebelum merasakan diri kita bersalah, karena yang membuat kita melupakan diri kita adalah merasa benar” – AOA
GazanaPublika.com – Substans muhasabah adalah proses untuk mengetahui dan menyadari kesalahan yang telah kita perbuat. Pernahkah kita membuat daftar atau checklist atas kesalahan kita? Berapa banyak kesalahan yang telah kita lakukan, baik yang bersifat moral seperti perbuatan maksiat, maupun kesalahan perilaku akibat tindakan tidak beradab terhadap diri sendiri atau orang lain, terlebih jika sampai menyakiti hati orang lain?
Advertisement
Ternyata, hidup kita penuh dengan kesalahan. Manusia tidak pernah luput dari kekhilafan. Bahkan, meskipun kita pergi ke hutan dengan tujuan menghindari dosa, bisa jadi itu sendiri merupakan kesalahan. Ketika, pada saat tertentu, kita merasa sudah terhindar dari dosa dan kesalahan, muncul rasa suci dalam diri kita. Padahal, perasaan seperti itu justru merupakan dosa besar.
Pernahkah kita merenungi bahwa pikiran kotor yang melintas dalam diri kita adalah dosa? Segala kotoran halus yang menyelinap ke dalam hati, seperti kesombongan, kebencian, kedengkian, prasangka buruk (su’uzhan), dan sifat kikir, sering kali tidak diucapkan tetapi hanya berupa gerak hati. Namun, tidakkah kita sadari bahwa semua itu adalah dosa-dosa batin yang bersemayam di dalam hati kita?
Semoha kita merenungkanlah semua itu. Jika dosa-dosa batin tersebut masih bercokol dalam diri, maka segera kita beristighfar dan sungguh-sungguh memohon ampunan kepada Allah.
Kita wajib mengenali diri sendiri, yakni segala hal buruk yang masih ada dalam diri kita. Diperlukan kesungguhan yang kuat untuk keluar dari belenggu kesalahan tersebut. Tidak ada yang dapat memperbaiki diri kita selain diri kita sendiri, sambil terus memohon pertolongan Allah atas segala kelemahan kita. Kita harus menginsyafi semua itu.
Merasa bersalah di hadapan Allah jauh lebih baik daripada merasa benar. Siapa saja yang memelihara rasa benar dalam dirinya maka ia akan mudah lupa. Lupa bahwa dirinya adalah makhluk yang lemah.Lupa bahwa dia hanyalah seorang manusia yang akan mati. Bahkan bisa jadi ia akan menjadi pelupa sungguhan. Ia akan tertipu oleh dirinya sendiri, oleh orang lain, bahkan oleh tipu daya setan. Rasa lupa ini akan membuat kita semakin terlena dalam kehidupan, larut dalam dosa, dan akhirnya semakin jauh dari Allah.
Kebalikan dari lupa adalah ingat, yang dalam konteks keimanan disebut dzikir kepada Allah. Ingat berarti membangun kesadaran, dan kesadaran itu adalah ruh. Ruh adalah kedekatan seorang hamba kepada Rabb-nya.
Semoga kita senantiasa mampu bermuhasabah, mengenali kesalahan, memperbaiki diri, dan mendekatkan hati kepada Allah.
Advertisement
Advertisement
