GazanaPublika.com,Yerusalem — Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, dalam kunjungannya ke Yerusalem pada Kamis (31/7/2025), menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap krisis kemanusiaan yang masih berlangsung di Jalur Gaza. Dalam pernyataan tegasnya kepada media, ia menggambarkan kondisi di wilayah tersebut sebagai “bencana kemanusiaan yang berada di luar imajinasi manusia”.
Pernyataan Wadephul muncul usai dirinya melakukan serangkaian pertemuan dengan para pemimpin tinggi Israel, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya diplomatik Jerman dalam mendorong deeskalasi kekerasan sekaligus meningkatkan akses kemanusiaan bagi warga sipil di Gaza.
“Saya melihat sendiri laporan-laporan yang menggambarkan penderitaan warga Gaza yang luar biasa. Pria, wanita, dan anak-anak sekarat setiap hari hanya karena mereka tidak memiliki cukup makanan atau akses ke bantuan medis. Ini bukan hanya tragedi regional — ini adalah kegagalan kemanusiaan global,” ujar Wadephul di hadapan media, sebagaimana dilaporkan AFP dan sejumlah media Eropa lainnya.
Ia menegaskan bahwa Jerman, sebagai salah satu mitra utama Israel di Eropa, merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan peringatan keras. Wadephul menyebut bahwa pengiriman bantuan lewat udara saja tidak cukup untuk menjawab skala krisis yang terjadi. Menurutnya, yang dibutuhkan saat ini adalah pembukaan jalur darat yang cepat, aman, dan mencukupi agar bantuan dapat menjangkau warga Gaza secara langsung dan efisien.
Dalam kesempatan yang sama, Menlu Wadephul juga memberikan peringatan diplomatik yang serius. Ia menyatakan bahwa Israel sedang menghadapi risiko besar berupa isolasi internasional, terutama jika tidak ada perubahan nyata dalam kebijakan mereka terhadap wilayah Palestina.
“Semakin lama konflik ini berlangsung tanpa solusi, semakin besar pula ancaman terhadap posisi internasional Israel. Dunia mulai kehilangan kesabaran, dan citra Israel di panggung global berada dalam tekanan yang sangat berat,” katanya. Ia juga menekankan pentingnya agar pemerintah Israel tidak melanjutkan langkah-langkah seperti pengusiran penduduk Palestina secara paksa ataupun upaya aneksasi wilayah yang secara hukum masih disengketakan.
Wadephul menegaskan bahwa posisi Jerman tetap teguh pada prinsip dua negara sebagai satu-satunya jalan menuju perdamaian yang berkelanjutan antara Israel dan Palestina. Namun, dia menolak ide pengakuan sepihak terhadap negara Palestina saat ini, dengan alasan bahwa pengakuan semacam itu hanya akan efektif jika merupakan bagian dari kesepakatan damai yang dinegosiasikan bersama.
Sebagai bentuk dukungan konkret, Pemerintah Jerman mengumumkan tambahan bantuan sebesar €5 juta (sekitar Rp90 miliar) untuk mendukung operasi pangan dan kemanusiaan di Gaza, termasuk melalui Program Pangan Dunia (WFP). Dana ini ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan pokok warga sipil, serta mendirikan rumah sakit darurat di Gaza utara, di mana sistem layanan kesehatan saat ini hampir sepenuhnya lumpuh akibat perang.
Jerman juga menyatakan komitmennya untuk mendukung pengiriman bantuan melalui udara dan darat dari wilayah Yordania. Pesawat militer Jerman, dalam koordinasi dengan organisasi bantuan internasional, akan digunakan untuk mempercepat proses distribusi logistik ke Gaza.

