GazanaPublika.com, Jakarta — Presiden Donald Trump dilaporkan menyatakan kesediaannya untuk mengakhiri operasi militer terhadap Iran meskipun Strait of Hormuz masih belum kembali dibuka sepenuhnya.
Laporan tersebut pertama kali diungkap oleh The Wall Street Journal dan dikutip oleh Reuters pada Selasa (31/3/2026). Menurut sejumlah pejabat pemerintahan yang dikutip, Trump menilai operasi militer untuk membuka kembali Selat Hormuz berpotensi memperluas konflik melampaui target waktu empat hingga enam minggu yang telah ditetapkannya.
Sejumlah sumber menyebut bahwa opsi militer tetap tersedia, namun bukan menjadi prioritas utama saat ini. Fokus Washington disebut diarahkan pada upaya melumpuhkan kekuatan angkatan laut Iran dan infrastruktur rudalnya, sebelum kemudian menekan Iran melalui jalur diplomatik agar membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.
Jika pendekatan diplomatik tidak membuahkan hasil, pemerintah AS disebut akan mendorong sekutu-sekutunya di Eropa dan kawasan Teluk untuk mengambil peran dalam membuka kembali selat yang menjadi jalur sekitar 20% perdagangan minyak global dan seperempat pasokan gas dunia.
Pasar keuangan merespons laporan ini secara positif. Harga minyak mentah Brent tercatat turun sekitar 1,3% ke level US$106,04 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,7% menjadi US$102,22 per barel. Penurunan ini mencerminkan meredanya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi perang yang lebih luas.
Sentimen serupa juga terlihat di bursa Asia. Indeks Hang Seng Index menguat 0,5% ke posisi 24.869,71, sedangkan indeks komposit Shanghai Composite naik 0,3% menjadi 3.935,05.
Sebelumnya, Trump sempat mengeluarkan ancaman keras dengan menyebut kemungkinan penghancuran Pulau Kharg—pusat ekspor utama minyak Iran—jika kesepakatan damai gagal tercapai. Namun pada hari yang sama, ia juga menyatakan bahwa pejabat AS tengah berbicara dengan “rezim yang lebih masuk akal” di Teheran.
Pihak Iran membantah adanya negosiasi tersebut dan menuduh Washington menggunakan narasi diplomasi sebagai kedok untuk mempersiapkan kemungkinan invasi darat.
Para analis pasar memperingatkan bahwa apabila konflik berubah menjadi operasi darat skala penuh atau memicu pembalasan regional yang lebih luas, harga minyak berpotensi melonjak ke level tertinggi sejak 2008, ketika Brent hampir menyentuh US$150 per barel.

