GazanaPublika.com, Teheran – Situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali membara setelah militer Amerika Serikat meluncurkan rentetan serangan udara susulan ke wilayah Iran pada Rabu malam waktu setempat. Operasi militer yang menandai hari kedua aksi saling serang antar kedua negara ini dilaporkan telah menimbulkan korban jiwa serta kerusakan yang cukup masif di beberapa titik pertahanan.
Pihak otoritas medis setempat segera bergerak melakukan evakuasi pasca-ledakan hebat yang mengguncang sejumlah kota. Kementerian Kesehatan Iran mengonfirmasi bahwa eskalasi bersenjata pada hari kedua ini telah merenggut nyawa belasan orang dan melukai puluhan warga lainnya yang berada di sekitar lokasi target hantaman.
“Dari jumlah korban luka tersebut, sebanyak 47 orang masih dirawat di rumah sakit dan sisanya telah diperbolehkan pulang setelah menerima perawatan medis,” kata kepala humas Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, dalam pernyataan resmi yang dirilis melalui media sosial X. Meskipun merilis data resmi korban, lembaga kesehatan tersebut belum merinci lebih lanjut mengenai komposisi korban apakah berasal dari kelompok sipil atau personel militer.
Di sisi lain, angkatan bersenjata Iran mengakui adanya kehilangan perwira mereka dalam operasi pertahanan udara tersebut. Melalui siaran televisi pemerintah, militer Iran mengumumkan bahwa delapan anggota pemberani dari Angkatan Udara dan Angkatan Laut militer Republik Islam Iran di Bandar Abbas dan Bushehr gugur sebagai syuhada. Atas insiden mematikan di wilayah selatan dan barat daya tersebut, pemerintah Teheran mengutuk keras tindakan Washington dan melabeli aksi tersebut sebagai agresi kriminal.
Aksi saling balas ini kian menegaskan keterlibatan aktif militer luar negeri di kawasan teluk. Korps Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menyatakan bahwa jet tempur dan aset tempur mereka setidaknya telah membombardir 90 instalasi strategis milik Iran sepanjang Rabu malam.
Pihak Pentagon menegaskan bahwa operasi masif ini terpaksa dilakukan demi kepentingan keamanan maritim dunia. Menurut CENTCOM, langkah ofensif tersebut diambil guna semakin melemahkan kemampuan Iran dalam menyerang pelayaran komersial dan para pelaut sipil tak berdosa di Selat Hormuz yang menjadi jalur urat nadi perdagangan minyak internasional.

